Kata Pak Sat

Sore tadi.. saya keluar dari ruang dosen, baru selesai bimbingan proposal TA. Temen saya yang udah nungguin dari tadi langsung nanyain gimana, saya spontan sumringah. She knows what it does mean. Dan kita saling nyeritain gimana hasil bimbingan tadi. Kebetulan kita sama-sama dibimbing Pak Sat. Tadi saya bimbingan setelah dia.

Kita berdua janjian mau makan setelah bimbingan. Kelaperan karena belum makan siang. Tapi, ke perpus dulu nyari buku. Cuman sebentar doang, karena inget masih ada minjem buku dua, yang artinya gak bisa pinjem lagi. Temen saya juga sama. Yaudah jadinya kita langsung cari tempat makan.

Singkat cerita, saya akhirnya sampe kos jam setengah enaman.

Btw, bimbingan hari ini tuh bikin hati seneng. Gak banyak coretan di sana sini. Meski tetep ada yang harus diperbaiki. Yang perlu ditambah juga ada beberapa. Dan untuk semua itu Pak Sat bersedia kasih waktu sampe 20 Januari, which is at least saya punya 10 hari dari sekarang. Seneng! Saya selalu seneng kalau punya waktu yang cukup buat ngerjain sesuatu karena saya gak suka diburu-buru.

Pak Sat tadi juga bilang ini saya tinggal selangkah lagi. Saya sih senyum tapi dalem hati ketakutan. Sampe sekarang masih ngerasa belum siap maju sidang proposal. Saya gak pernah yakin sama apa yang saya tulis. Tapi, Pak Sat selalu aja kalau lagi bimbingan bilang : bab ini udah bagus, bab itu udah bagus, kamu cuma sedikit aja yang perlu diperbaiki, sekaliber kamu masa gak bisa, dan bla bla bla. Sering saya cuman senyum doang dan dalem hati bilang : saya bahkan ragu sama diri sendiri, Pak.

Tapi, dipikir-pikir masa saya mau ngerjain proposal terus, ga selesai selesai. Apa yang Pak Sat bilang itu harusnya saya seneng dan makin semangat. Nggak ngerti lagi sama diri sendiri. Wkwk.

Semangat!
Akhir Januari harusnya udah bisa selesai nih proposal. Semangat!

Manusia Manusia Perkasa

Pagi ini, kira-kira jam 7 lewat sedikit, saya keluar buat beli sarapan. Jalanan rame, penuh oleh kendaraan lalu lalang. Orang-orang berangkat dari rumah mereka, berkejaran dengan waktu untuk sampai ke kantor, sekolah, pasar, toko, apa lagi ya? Lampu hijau menyala, saya melaju di atas motor sambil menertawakan diri saya sendiri. Saya berpikir, beginilah (seharusnya) wajah kehidupan di pagi hari. Semua bergegas menghidupkan kehidupan. Sedangkan saya bahkan mandi pun belum.

Jadi ingat sebuah puisi. Judul postingan ini juga terinspirasi dari puisi itu. Tapi, kerena yang saya temui pagi ini bukan cuma perempuan saja, makanya judulnya jadi begitu.

Perempuan-Perempuan Perkasa
Karya: Hartoyo Andangjaya

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Dari manakah mereka
Ke stasiun mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Siapakah mereka
Mereka adalah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
Akar-akar yang melata di tanah perbukitan turun ke kota
Mereka: cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

Perkasa memang tak melulu soal fisik, tapi soal semangat hidup dan harapan yang nyalanya tak boleh padam.

Ayah saya di kampung pasti sedang menghidupkan kehidupan juga pagi ini. Ke ladang, meski hanya sekedar membersihkan rumput liar di bawah pokok sawit. Mamak saya juga pasti sedang menghidupkan kehidupan pagi ini. Ke cucian piring dekat pohon jambu air, mencuci piring kotor bekas sarapan. Si Bomber, adik perempuan saya, pasti juga sedang menghidupkan kehidupan pagi ini. Ke sekolah nun jauh di kota untuk belajar. (Jadi kangen rumah). Saya? Saya akan menghidupkan kehidupan pagi ini dengan memahami proposal TA saya. Kamu?

Cemburu, tapi takut

Sekarang jam 3.25 pagi. Di luar rerintikan hujan terdengar melemah, pertanda hujan akan segera reda. Kapan ya terakhir kali bangun sepagi ini? Saya mah apa-apa yang ditanya selalu aja kapan terakhir kali 😀 Kenapa saya bisa bangun sepagi ini? Saya bangun sepagi ini karena… lebih tepatnya terbangun sih. Saya terbangun sepagi ini karena… kipas angin lagi rusak! Kesel! Kepanasaaaaan!

Ngomong-ngomong, beberapa temen saya udah lulus sidang dan tinggal nunggu hari wisuda sarjana. Beberapa yang lainnya lagi dalam waktu dekat akan sidang. Ah.. mereka, bikin cemburu. Mereka luar biasa. Saya kapan ya? Membayangkan sidang proposal aja saya takut. Ya Allah, tolong.

 

 

1/365 : Songbrothers

Heyho 🙂
Alhamdulillah disampaikan ke tahun 2015 oleh Allah.
So, this is my first writing this year, very very excited to post this.

Tadi pagi alhamdulillah saya kembali nge-proposal. Walaupun masih baru baca ulang doang. Belum ada nambah apa-apa meski hanya sebaris kalimat. Terus saya juga google ke sana sini, cari tahu apa tools yang saya gunakan integrable atau nggak dengan aplikasi berbasis (preferably) ASP atau Java. Sampai akhirnya saya mengambil kesimpulan, bahwa it is possibly integrable but out of my capability. Saya baru sadar. Astaghfirullah -_-

Pusing, saya memutuskan untuk istirahat dan hape-an. Pas buka explore instagram, ada sebuah foto yang berhasil mencuri fokus saya.

Foto di-screenshot dari akun instagram @songbrothers

Foto di-screenshot dari akun instagram @songbrothers

Coba buka ah! Ternyata sebuah video, the father asked the kid :
Father : “Many people appeared on tv, who do you like the most?”
Kid : … (silent and thoughtful for a while) … “Appa-ga
Look at the kid, he is just pinch-cheek-able.

Gak berhenti sampe disitu aja, kekepoan saya pun membubung tinggi. Saya buka beberapa video lagi. Jadilah kerjaan saya ngepoin si songbrothers.

SONGBROTHERS

@songbrothers adalah sebuah akun di instagram yang isinya foto juga video seorang ayah: Song Il Gook, bersama putra kembar tiganya: Daehan, Minguk dan Manse. Mereka semua lucu-lucu, turunan kali ya dari sang ayah. Like father, like son. Kepusingan saya berasa terobati sama tingkah mereka. They are so adorable, really.

Lain waktu saya pengen post sesuatu tentang mereka.
By this time, from the first time I see the video above, I can say that my heart has been stolen by songbrothers, especially Daehan.

“Abeoji, gamja juseyo”