Kapan pulang?

Sudah lama tak pulang ke kampung. Sampai-sampai, mamak berulang kali menelepon dan mengirimi sms. Alvin, keponakan saya yang belum genap berusia 4 tahun, bahkan meminta mamaknya untuk menelepon saya. Menanyai kapan saya pulang.

Sudah sekitar 6 bulan saya tak pernah pulang. Waktu terlama selama saya nge-kos. Bukan apa-apa, hanya disibukkan oleh urusan-urusan mahasiswa tingkat akhir. Mencari judul tugas akhir (TA), mengerjakan proposal, sidang proposal dan revisi proposal.

Rumah. Sungguh saya sangat rindu ingin pulang. Terlalu lama di luaran membuat saya sadar, bahwa tak ada tempat selain rumah yang bisa membuat kita betah untuk tetap tinggal. Apalagi segala urusan TA terasa cukup melelahkan, badan dan pikiran.

Yah, Mak… revisi proposal sudah selesai 2 hari yang lalu. Saat ini tinggal sedikit saja lagi yang menghambat aku untuk pulang ke rumah. Aku akan segera pulang.

Advertisements

Manusia Manusia Perkasa

Pagi ini, kira-kira jam 7 lewat sedikit, saya keluar buat beli sarapan. Jalanan rame, penuh oleh kendaraan lalu lalang. Orang-orang berangkat dari rumah mereka, berkejaran dengan waktu untuk sampai ke kantor, sekolah, pasar, toko, apa lagi ya? Lampu hijau menyala, saya melaju di atas motor sambil menertawakan diri saya sendiri. Saya berpikir, beginilah (seharusnya) wajah kehidupan di pagi hari. Semua bergegas menghidupkan kehidupan. Sedangkan saya bahkan mandi pun belum.

Jadi ingat sebuah puisi. Judul postingan ini juga terinspirasi dari puisi itu. Tapi, kerena yang saya temui pagi ini bukan cuma perempuan saja, makanya judulnya jadi begitu.

Perempuan-Perempuan Perkasa
Karya: Hartoyo Andangjaya

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Dari manakah mereka
Ke stasiun mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Siapakah mereka
Mereka adalah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
Akar-akar yang melata di tanah perbukitan turun ke kota
Mereka: cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

Perkasa memang tak melulu soal fisik, tapi soal semangat hidup dan harapan yang nyalanya tak boleh padam.

Ayah saya di kampung pasti sedang menghidupkan kehidupan juga pagi ini. Ke ladang, meski hanya sekedar membersihkan rumput liar di bawah pokok sawit. Mamak saya juga pasti sedang menghidupkan kehidupan pagi ini. Ke cucian piring dekat pohon jambu air, mencuci piring kotor bekas sarapan. Si Bomber, adik perempuan saya, pasti juga sedang menghidupkan kehidupan pagi ini. Ke sekolah nun jauh di kota untuk belajar. (Jadi kangen rumah). Saya? Saya akan menghidupkan kehidupan pagi ini dengan memahami proposal TA saya. Kamu?