Garis

Entah titik mana
Yang membuat aku menarik garis
Tak putus.. menujumu
Setiap waktu

Dalam rapalan doa kusemogakan
Suatu ketika nanti garis ini akan sampai di tujuan
Saat aku dan kau menjadi kita
Kemudian aku tak perlu lagi mencuri waktu
Untuk bisa membersamaimu

Petaling Jaya, 22 Desember 2016

Advertisements

Dulce dan Hujan

Hi Dul, apa kabar disana?  Baik-baik aja kan?

Malam ini gua rindu lu, Dul. Kalau aja lu belum pergi, pasti sekarang kita sama-sama disini. Berangkat kerja bareng, makan siang bareng, pulang bareng.

Dul.. gua sendirian disini. Iya ada koko dan ada temen-temen yang lain juga. Tapi maksud gua, gua disini sebagai BC sendirian. Gua belajar hal-hal baru semuanya sendiri, dikasih tugas juga ngerjainnya sendiri. Kalo ada lu kan kayak waktu KP dulu gua ada temennya. Gua gak akan kesusahan sendiri. Ada yang bisa diajak diskusi kapan aja. Nanti Dul kalo temen-temen yang lain pada overtime di kantor, gua bakal sendiri pulangnya. Jalan kaki ke halte sendiri, nunggu bus sendiri. Dan gua ga ada temen ngobrol. Lu tau kan gua susah deket sama orang.

Btw Dul beberapa hari ini disini selalu hujan tiap kali pulang kerja. Gua bawaannya jadi tambah sedih. Gua membayangkan ya kalo kita pulang kerja bareng pasti seru wkwk. Tapi jangan ejekin gua orang India ya 😀

Hmm.. entahlah Dul. Pokoknya malem ini gua rindu -_- Datang kat mimpi malam ni boleh tak?

Baik-baik ya Dul disana. Gua juga akan baik-baik disini. I’ll do my best. Janji!

Petaling Jaya, 02 Desember 2016

Ulang

Saya mengulang semuanya dari awal. Menapaki jalan menjemput toga dengan langkah pertama untuk kedua kalinya.

Sebuah keputusan sulit saya ambil. Melepaskan penelitian yang saya tekuni sebelumnya. Penelitian yang  saya ambil dengan begitu berani sebagai tugas akhir saya. Penelitian yang akan sangat luar biasa sekali jika saja saya bisa menyelesaikannya. Tapi berani saja rupanya tidak cukup. Saya lupa menimbang-nimbang kemampuan dan waktu yang saya punya. Terpana hanya karena penelitian itu terlihat begitu keren. Terlalu berani mengambilnya. Terlalu yakin bisa menyelesaikannya.

Hingga kemudian waktu yang menjawab. Pelan-pelan saya tersadar, penelitian itu saya tak mungkin bisa menyelesaikannya. Kesalahan fatal yang baru saya ketahui setelah separo jalan. Saya bukannya langsung menyerah. Saya bertahan dengan segala yang saya bisa. Hingga akhirnya saya mengaku kalah.

Kemarin siang saya baru saja merampungkan revisi pasca seminar proposal penelitian yang baru. Untuk kedua kalinya saya merasakan betapa leganya hati saya setelah berlelah-lelah berjuang selama dua minggu. Revisi seminar proposal saya memang tak pernah mudah. Tapi melihat dosen penguji membubuhkan tandatangannya di semua poin revisi saya, semua kelelahan saya terbayar. Berganti menjadi semangat baru untuk menyegerakan tahapan berikutnya.

Pada akhir tulisan ini saya ingin berterimakasih. Pada orang-orang yang turut bersedih saat saya harus gagal wisuda tahun lalu. Yang membesarkan kecil hati saya saat itu. Mengelap mata saya yang basah. Pada orang-orang yang selalu menyemangati saya. Yang membantu saya untuk berdiri kembali. Pada orang-orang yang menumbuhkan lagi rasa percaya diri saya. Yang memilih tak kecewa dan tetap percaya pada saya. Menepuk-nepuk pundak saya. Pada orang-orang yang menemani saya berjuang kembali. Memberikan tangan untuk saya pegang, juga pelukan yang menguatkan. Hadir membersamai saya sehingga saya tak merasa sendirian.

Terimakasih banyak. 🙂

Semangat bikin sistem!

Menyemangati Si Bomber

Pagi ini setelah mandi dan shalat shubuh yang telat sekitar 30 menit, aku ingin menyapa Si Bomber, yang hari ini akan menjalani Ujian Nasional hari kedua. Kutelepon ke nomornya, tak diangkat. Oh mungkin dia sedang sibuk di depan kaca, memasang jilbabnya. Kutelepon ke nomor mamak saja lah. Diangkat. Sebuah suara paling meneduhkan yang pernah ada terdengar dari ujung sana. Aku terlambat. Si Bomber ternyata sudah berangkat, diantar oleh ayah ke simpang. Padahal baru jam 6. Bukankah biasanya dia berangkat jam 6.15? Hmm..

Tapi mamak bilang dia membawa handphone-nya. Baiklah, akan kutelepon nanti kesana. Aku berbincang singkat dengan mamak. Pagi ini mamak rupanya punya telor ceplok dan indomie rendam. Sesederhana itu sarapan disana pagi ini, tapi tetap saja bikin rindu, bikin perut jadi lapar seketika. Tapi mamak belum sarapan, katanya masih menonton acara Islam Itu Indah. Ah, masih saja.. seperti beberapa tahun lalu saat aku turut menemaninya menonton tausiah Ustad Maulana yang lucu itu. Tapi, sepertinya juga karena masih menunggu Ayah untuk sarapan bersama. Karena aku menelepon tanpa membuat paket terlebih dahulu, kuakhiri telepon dengan cepat. Mamak menyempatkan menanyakan kabarku sebelum telepon kututup. Tak pernah lupa.

Aku mencoba menelepon Si Bomber lagi. Tetap tak diangkat. Tapi ada sebuah sms masuk darinya. Sebuah tanya ada apa, dan meminta doa untuk kesuksesan ujian hari ini. Oh jadi mungkin dia sudah di oplet dan malu atau segan untuk sekedar mengangkat telepon. Hahaha. Baiklah, niat menyemangati lewat suara langsung tak tersampaikan, kalau begitu sms aja. Aku mulai mengetik di keyboard handphone-ku. Kubilang tentu saja aku pasti berdoa untuknya, aku menyemangatinya bahwa dia bisa melewati ujian dengan baik, kemudian berpesan padanya agar jangan lupa senyum dan jangan lupa berdoa.

Usai mengirimkan sms itu, aku ke balkon depan kos ku. Sayang sekali sudah bangun pagi kalau tidak melihat langit pagi ini, apalagi dalam cuaca dingin basah sehabis hujan semalaman. Sekawanan semburat jingga menggantung cantik di langit timur sana. Kuambil handphone-ku yang kutinggal di tempat tidur sehabis sms tadi. Ini tak boleh dilewatkan. Dan… tadaaa..

IMG_20160405_061719

Ohayo! Selamat pagi dari Rumbai yang pagi ini basah, teduh dan segar sekali. Terimakasih, hujan yang sepertinya turun semalaman. Terimakasih, langit dengan semburat jingga mu pagi ini. Subhanallah.

Oke, ayo kita nyuci baju!