Di Pintu Ruangan Tempat Saya KP

Kata-kata Bijak hari ini :

  1. Jangan menuntut ilmu, karena ilmu itu tidak bersalah..
  2. Jangan membalas budi, karena belum tentu Budi yang melakukannya..
  3. Jangan menyumbangkan lagu, karena lagu yang sumbang tidak enak didengar..
  4. Jangan mengurusi teman, karena belum tentu temanmu ingin kurus..
  5. Jangan mengarungi lautan, karena karung lebih cocok untuk beras..
  6. Jangan meresapi kata-kata ini karena meres handuk saja sudah susah, apalagi meres api…..!!!

Kerja Praktek : Day 1

Rabu, 3 September 2014

Hari ini adalah hari pertama kerja praktek (KP). Sebenarnya tak bisa dibilang hari pertama. Karena belum ada kegiatan kantor, masih mengurus administrasi dan keberangkatan. Oh iya, saya KP tidak sendiri dari kampus, tapi sama teman saya, Ratih.

Di invitation letter, kita disuruh datang untuk melapor ke Training Center CPI distrik Rumbai di jam 9.00-15.00. Kita berdua berangkat jam 8.30, diantar oleh teman satu kelas, Ichad dan Om Ade. Sampai di Training Center Rumbai kita langsung cari Pak Elwin ke ruangannya. Pak Elwin ini yang mengurus masalah administrasi dan keberangkatan kita ke CPI distrik Duri. Orangnya ramah banget, welcome dan helpful. Saat itu kebetulan si bapaknya lagi keluar. Kira-kira jam 9.30 kita baru bisa jumpa Pak Elwin.

Setelah lapor, kita dibawa ke KP/TA Room oleh Pak Elwin. Di ruang itu kita ketemu mahasiswa yang mau KP juga, namanya Haza, dari Elektro Unri. Terus, Pak Elwin briefing sama kita bertiga tentang keberangkatan kita hari ini plus beberapa administrasi yang mesti dilengkapi sebelum keberangkatan, seperti Visitor Pass, Check List KP/TA, Surat Pernyataan, dan lembar Student’s Competency.

Waktu lagi briefing, tiba-tiba Pak Elwin ada urusan. Seseorang datang menggantikan Pak Elwin, namanya Pak Dhodo, tapi karena masih muda (mungkin sekitar 28  atau 29) jadi kita panggil Mas Dhodo. Briefing pun dilanjutkan sampai selesai jam 11. Setelah melengkapi semua administrasi, kita diberi tau bahwa kita berdua diberangkatkan ke Duri pakai bus jam 4 sore. Sedangkan si Haza jam 2 sore, tapi tujuannya CPI distrik Dumai. Sebelum Mas Dhodo balik ke ruangannya, kita bertiga diingatkan untuk makan siang dulu di Mess Hall sebelum berangkat. Saya awalnya gak tau itu tempat apa, ternyata itu tempat untuk Food and Beverage buat para employee, guest  dan juga mahasiswa yang lagi KP/TA.

Keluar dari KP/TA Room, ternyata ada segerombol 6 cewek berjilbab. Mereka lagi nunggu Pak Elwin. Mereka ini baru aja selesai KP, semuanya dari Tekim Undip. Menunggu jam makan siang, kita bertiga cerita-cerita sama mereka. Jam 11.45 kita bertiga bareng mereka ke mess hall pakai Taxi yang udah dipesan sebelumnya. Sampai di sana, ternyata di mess hall enak banget, banyak makanan. Saya lega karena berarti selama KP saya gak perlu khawatir urusan makanan. Hehe.

Setelah makan siang di mess hall kita balik lagi ke Training Center terus sholat. Selesai sholat, Haza langsung ambil kopernya terus berangkat ke transport. Gak lama, anak-anak Undip juga mulai meninggalkan Training Center Rumbai, saudara mereka yang jemput udah datang. Jadilah tinggal saya dan Ratih aja. Lumayan lama nunggu dan bosan juga. Sekitar jam 3.30 si Ratih pesan taxi buat kita berdua ke transport.  Tepat setelah kita selesai sholat Ashar, taxi datang. Kita diantar ke transport. Sampai di sana, kita lapor ke (mungkin) semacam resepsionis untuk lapor lagi (semacam check in) dan kemudian kita dikasih boarding pass. Jam 4 sore bus berangkat menuju CPI distrik Duri.

Perjalanan Rumbai-Duri memakan waktu sekitar 4 jam. Kurang lebih jam 8 malam kita sampai Duri. Begitu sampai di transport Duri, kita lapor lagi sekaligus tanya kendaraan ke Wisma Bekasap. Mas Dhodo bilang kita harus check in di Wisma Bekasap dan ambil kunci kamar tempat kita tinggal selama KP. Tidak susah, ternyata mobil tujuan Wisma Bekasap sudah ready. Kita pun langsung naik.

Sampai di Wisma Bekasap kita check in dan ambil kunci. Resepsionis yang melayani kita ramah. Ternyata, kita ditempatkan di Kompleks Talang. Mahasiswa KP/TA biasanya memang di kompleks itu. Saya di Talang 207A sedangkan si Ratih di Talang 28C. Angka menandakan nomor rumah, sedangkan huruf menandakan kamar. Terus resepsionis yang ramah itu bilang ke kita supaya ke Mess Hall buat makan malam dulu sebelum menuju tempat tinggal masing-masing.

Dari Wisma Bekasap, jalan saja sedikit putar ke belakang nah udah sampai di mess hall. Kita berdua jalan ke mess hall sambil bawa-bawa koper, suara rodanya sempat buat kita diliatin orang-orang yang ada di jalan menuju mess hall. Sebenarnya, resepsionis udah bilang bahwa koper kita boleh ditinggal dulu di Bekasap dan ambil lagi setelah makan malam. Tapi, setelah nanya dan tau bahwa tempat nunggu bus itu dekat dengan mess hall, kita milih buat bawa koper langsung. Ngomong-ngomong, mess hall yang di Duri lebih gede daripada yang di Rumbai. Sekitar hampir jam 9 kita selesai makan malam. Kita ke tempat nunggu bus dan gak lama bus datang. Bus langsung menuju Kompleks Talang. Sepi, penumpangnya cuma kita berdua.

Selama di bus, kita berdua menebak-nebak ada dimana Talang 207A dan 28C itu. Dan tebakan saya benar. Tempat tinggal kita berdua sumpah jauh banget jaraknya, dari nomornya udah kelihatan. Talang 28 itu di bagian blok depan sedangkan Talang 207 itu bagian blok hampir paling belakang. Tadi waktu di Wisma Bekasap kita udah coba minta ke resepsionis supaya tempat tinggal kita berdekatan, biar lebih enak kemana-mana bisa bareng dan kalau sewaktu-waktu perlu diskusi kita juga gak jauh. Tapi gak bisa karena alasan ketersidiaan kamar. Jadi ya sudahlah, terima saja. Ratih turun lebih dulu. Dan saya mulai cemas sekaligus penasaran sejauh apa rumah nomor 28 dan 207 itu. Akhirnya saya sampai di depan rumah nomor 20t itu. Kita diturunin dari bus di depan pintu rumah, baik banget pak supirnya. Barangkali dia tau kalau kita anak baru, bawa koper-koper segala soalnya. Haha.

Setiap rumah ternyata punya 3 kamar. Di Talang 207 ternyata aku tinggal dengan 2 orang employee. Bagus juga, berarti saya tidak sendirian. Yang satu namanya Pak Regar dan yang satu lagi Pak Muji. Dua-duanya sudah tua, tebakanku kira-kira 50-55 tahun lah.

Waktu mau buka pintu kamar, kunci yang saya putar patah. Saya sedikit panik juga kesal. Empat jam lebih sebelum sampai Talang 207A, eh pas mau masuk kamar malah kuncinya patah. Saat itu yang ada di rumah cuma Pak Muji, beliau di 207C. Saya bersyukur sekali, Pak Muji langsung berusaha membantu saya. Dari telfon rumah yang ada di dekat TV, beliau menghubungi seseorang. Mungkin semacam nomor pengaduan atau bantuan. Gak lama, seseorang datang, sepertinya yang tadi ditelfon oleh Pek Muji. Pintu kamar saya pun coba dibuka secara paksa, sebab patahan kunci tertinggal di dalam. Kurang lebih 10 menit akhirnya pintu bisa dibuka. Tapi petugasnya bilang ini pintu belum bisa dikunci dari luar. Jadi mesti jaga barang-barang berharga kalau pas lagi ninggalin kamar. Saya mengiyakan saja. Hanya untuk sementara, tak masalah. Besok pasti diperbaiki. Yang penting malam ini bisa istirahat dulu. Selain badan memang capek, saya dan Ratih sudah sepakat gak akan telat di hari pertama KP. Karena itu besok harus bangun pagi, supaya bisa melapor ke Pak Ngadio jam 7.00, sesuai pesan Mas Dhodo.

Oh, baby, finally I found you. *rebahan di kasur sambil tarik selimut* 😀

Btw, sorry ya Wah baru bisa  cerita sekarang. Padahal sekarang udah hari ketiga.

Agar Putih Abu-abu tidak memutuskan dengan abu-abu

(sekedar ingin membantu promosi)

Memutuskan jurusan yang akan diambil saat kuliah bukanlah hal yang mudah. Bagi sebagian siswa ada yang sudah menemukan passion-nya saat masih duduk di bangku SMA, sehingga mereka sudah punya keyakinan yang kuat mengenai jurusan yang tepat untuk diri mereka. Tetapi tidak begitu adanya bagi sebagian siswa yang lain. Ada yang memang kemampuannya saat duduk di bangku SMA sangat kurang, sehingga tidak pede untuk mengambil jurusan apapun. Akhirnya mengambil jurusan tertentu hanya kerena sekedar ikut-ikutan teman. Ada pula yang orang tuanya mengharuskan mereka untuk mengambil jurusan-jurusan tertentu, dalam kata lain ada (sedikit) unsur pemaksaan. Padahal jurusan yang diambil saat kuliah seharusnya tidak boleh asal-asalan. Siswa harus mengerti apa dan bagaimana jurusan yang akan mereka ambil. Jika mereka salah mengambil jurusan, maka hampir dapat dipastikan selama masa kuliah mereka akan terus menerus mengalami ketidaknyamanan menjalani hari-hari perkuliahan, apa yang mereka pelajari tidak nyambung dengan peminatan mereka. Kalau sudah begitu biasanya mereka akan menjadi malas mengerjakan tugas, kuliah hanya sekedar datang setor muka tanpa mendapatkan esensi dari perkuliahan tersebut. Mereka menjadi uring-uringan. Kasihan sekali jika selama 3-4 tahun atau bahkan lebih mereka seperti ini.

Sebuah ide kreatif dari tim #galaujurusan membuat suatu blog yang berisi cerita-cerita dari para (mantan) mahasiswa untuk menjadi referensi bagi adik-adik SMA sederajat dalam memilih jurusan dengan bijak. Cerita-cerita tersebut dipaparkan menurut sudut pandang orang pertama, orang yang langsung menjalani perkuliahan di jurusan tersebut. Jadi kamu bisa tahu bagaimana suka duka di jurusan tersebut secara real. Saat ini sudah ada 100 cerita lebih yang bisa kamu baca di blog tersebut. Silahkan langsung saja kunjungi jurusankuliah.tumblr.com dan semoga saat kuliah nanti kamu bisa berada di jurusan yang tepat!

galau jurusan

Practical Work [Part 1]

After delayed in last March due to joining a student exchange program in S’pore, I finally can take practical work. Submitted in May, my practical work application has been accepted, confirmed by email 2 days ago. It was said that the company cordially invites us (me and my partner) to conduct practical work from 3 Sept to 3 Oct 2014. It is very pleased to read it. I wish I could take it by doing my best. Bismillah.

Ayo, Wah.
Selama ini kita sudah berantakan. Sekarang, ayo kita tata kembali diri kita.
Selama ini bahkan kita tak berani bermimpi. Sekarang, ayo kita bangun lagi mimpi-mimpi baru.