Aku Masih Ingin

Aku masih ingin membuka pagi  dan menutup malam bersamamu
Duduk di sampingmu
Menjawab pertanyaan-pertanyaanmu
Bercerita padamu
Melepaskan tawa denganmu

Aku masih ingin berada di dekatmu
Menghirup aroma badanmu
Mengamati setiap langkah kakimu
Menonton kau menghabiskan nasi dan lauk di piringmu

Semoga akan ada lagi waktu

Petaling Jaya, 05 Januari 2017

Garis

Entah titik mana
Yang membuat aku menarik garis
Tak putus.. menujumu
Setiap waktu

Dalam rapalan doa kusemogakan
Suatu ketika nanti garis ini akan sampai di tujuan
Saat aku dan kau menjadi kita
Kemudian aku tak perlu lagi mencuri waktu
Untuk bisa membersamaimu

Petaling Jaya, 22 Desember 2016

Dulce dan Hujan

Hi Dul, apa kabar disana?  Baik-baik aja kan?

Malam ini gua rindu lu, Dul. Kalau aja lu belum pergi, pasti sekarang kita sama-sama disini. Berangkat kerja bareng, makan siang bareng, pulang bareng.

Dul.. gua sendirian disini. Iya ada koko dan ada temen-temen yang lain juga. Tapi maksud gua, gua disini sebagai BC sendirian. Gua belajar hal-hal baru semuanya sendiri, dikasih tugas juga ngerjainnya sendiri. Kalo ada lu kan kayak waktu KP dulu gua ada temennya. Gua gak akan kesusahan sendiri. Ada yang bisa diajak diskusi kapan aja. Nanti Dul kalo temen-temen yang lain pada overtime di kantor, gua bakal sendiri pulangnya. Jalan kaki ke halte sendiri, nunggu bus sendiri. Dan gua ga ada temen ngobrol. Lu tau kan gua susah deket sama orang.

Btw Dul beberapa hari ini disini selalu hujan tiap kali pulang kerja. Gua bawaannya jadi tambah sedih. Gua membayangkan ya kalo kita pulang kerja bareng pasti seru wkwk. Tapi jangan ejekin gua orang India ya 😀

Hmm.. entahlah Dul. Pokoknya malem ini gua rindu -_- Datang kat mimpi malam ni boleh tak?

Baik-baik ya Dul disana. Gua juga akan baik-baik disini. I’ll do my best. Janji!

Petaling Jaya, 02 Desember 2016

Hujan Yang Belum Deras

Aku harus berterimakasih pada hujan yang belum deras siang tadi
Yang memaksaku bergegas mencari tempat berteduh
Hingga membawaku pada sebuah pemberhentian: Dirimu.

Kita sama terkejutnya.
Sama-sama tak menyangka bertemu lagi setelah entah berapa lama.
Mata yang awas, senyum yang lepas dan bahasa tubuh yang lugas. Dirimu tak berubah.
Lama kita tak berjumpa, tapi aku bisa merasakan hangat pelukmu tetap sama.

Pesanmu Pagi Ini

Pada pagi yang hampir siang ini, wajah langit redup. Iring-iringan awan yang mengabu. Hembusan angin menyapu apa-apa yang dilewatinya, termasuk wajahku. Di warung es tebu tepi jalan ini aku duduk. Sendiri selepas rekan kerjaku beranjak lalu. Dingin. Hening.

Gerimis yang kemudian turun menyadarkan lamunanku. Kubalap motorku menuju kosku.

Adalah adikmu yang mengirimkan sebuah pesan pagi ini. Sebuah permintaan tolong, begitu ia menyebutnya. Untuk menghapus beberapa fotomu dari instagramku. Katanya itu pesanmu, yang tak sengaja kau sampaikan padanya. Tentu saja kuiyakan. Sedikit berat sebenarnya bagiku. Tapi kalau itu memberatkanmu pula di dunia barumu, aku tak boleh egois lagi kan seperti dulu?

Hari ini menjadi hari yang ke-23 kau pergi. Kataku di hari kepergianmu, aku tak akan pernah melupakanmu. Kutafsirkan bahwa pesan adikmu pagi ini mungkin adalah caramu mengingatkanku dari sana. Bahwa belakangan ini aku mulai mengingkari kata-kataku. Maafkan aku. Akan kurapal lagi doa-doa untukmu, akan kubacakan yasin untukmu seusai shalat fardhuku.

Maaf.