Ulang

Saya mengulang semuanya dari awal. Menapaki jalan menjemput toga dengan langkah pertama untuk kedua kalinya.

Sebuah keputusan sulit saya ambil. Melepaskan penelitian yang saya tekuni sebelumnya. Penelitian yang  saya ambil dengan begitu berani sebagai tugas akhir saya. Penelitian yang akan sangat luar biasa sekali jika saja saya bisa menyelesaikannya. Tapi berani saja rupanya tidak cukup. Saya lupa menimbang-nimbang kemampuan dan waktu yang saya punya. Terpana hanya karena penelitian itu terlihat begitu keren. Terlalu berani mengambilnya. Terlalu yakin bisa menyelesaikannya.

Hingga kemudian waktu yang menjawab. Pelan-pelan saya tersadar, penelitian itu saya tak mungkin bisa menyelesaikannya. Kesalahan fatal yang baru saya ketahui setelah separo jalan. Saya bukannya langsung menyerah. Saya bertahan dengan segala yang saya bisa. Hingga akhirnya saya mengaku kalah.

Kemarin siang saya baru saja merampungkan revisi pasca seminar proposal penelitian yang baru. Untuk kedua kalinya saya merasakan betapa leganya hati saya setelah berlelah-lelah berjuang selama dua minggu. Revisi seminar proposal saya memang tak pernah mudah. Tapi melihat dosen penguji membubuhkan tandatangannya di semua poin revisi saya, semua kelelahan saya terbayar. Berganti menjadi semangat baru untuk menyegerakan tahapan berikutnya.

Pada akhir tulisan ini saya ingin berterimakasih. Pada orang-orang yang turut bersedih saat saya harus gagal wisuda tahun lalu. Yang membesarkan kecil hati saya saat itu. Mengelap mata saya yang basah. Pada orang-orang yang selalu menyemangati saya. Yang membantu saya untuk berdiri kembali. Pada orang-orang yang menumbuhkan lagi rasa percaya diri saya. Yang memilih tak kecewa dan tetap percaya pada saya. Menepuk-nepuk pundak saya. Pada orang-orang yang menemani saya berjuang kembali. Memberikan tangan untuk saya pegang, juga pelukan yang menguatkan. Hadir membersamai saya sehingga saya tak merasa sendirian.

Terimakasih banyak. 🙂

Semangat bikin sistem!

Advertisements

Seandainya Tidak

Seandainya menyerah tidak akan menyakiti hati mereka, orang-orang yang mencintai saya dan saya cintai, tidak membuat mereka kecewa, tak menjatuhkan linangan air mata, tak membuat dada mereka sesak, seandainya tidak, maka saya akan memilih menyerah. Merelakan segalanya, yang sudah saya korbankan selama ini. Melepaskan semuanya.

Biarlah saya pergi entah kemana. Sudah lama sekali hati dan pikiran saya selalu dibalut kebingungan dan ketakutan. Kekalutan. Agar saya bisa merasakan lagi hati yang lapang. Tak apa… jikapun harus mengulang semuanya dari awal. Asalkan saya bisa merasakan lagi diri saya sendiri seperti dulu. Mengerti apa yang sedang saya lakukan. Paham apa yang saya kerjakan. Tau kemana kaki akan saya langkahkan. Agar saya bisa menata diri, agar saya mampu menatap ke depan, berani kembali untuk sekedar bermimpi.

Chat dari Dosen Pembimbing

Sebuah pop up dari aplikasi messenger di hp saya muncul. Hanya satu kata saja yg terlihat sebelum pesan itu saya buka, yaitu nama panggilan saya. Saya tidak mengenali foto profil pengirimnya. Karena itu saya tarik ke bawah panel notifikasi di sebelah atas hp saya. Baru lah saya tahu setelah membaca nama pengirimnya. Tak lain adalah Pembimbing 2 Proyek akhir (PA) saya. Saya kaget. Saya langsung bangkit dari tidur-tiduran saya.

Apakah gerangan sehingga beliau pula yang memulai chat ke saya.

Tunggu dulu. Saya memang sudah lama sekali tidak menemui pembimbing PA. Kira-kira sudah 2 bulan sejak saya dipastikan tidak bisa lagi maju ke sidang akhir dan gagal wisuda tahun ini, karena sistem saya yang tak kunjung bisa saya rampungkan. Sejak itu hanya ada sekali saja saya bertemu beliau, sewaktu acara makan bersama anak kelas dan dosen prodi, katanya acara ngumpul terakhir sebelum masing-masing pergi entah kemana. Pada waktu itu sewaktu salam-salaman beliau bilang ke saya agar tetap semangat dan beliau akan berdoa untuk saya.

Saya ragu, apakah harus membuka chat itu dgn segera atau nanti saja. Tapi hati saya bilang untuk segera membukanya. Saya keluar dari kamar menuju balkon, sebab di kamar saya jaringan sering hilang. Barulah saya beranikan diri untuk membuka chat dari beliau dan membalas dengan, “Iya pak..”

Sepertinya cuma kata itu yang bisa saya ketik. Tak mungkin pula saya menanyakan kenapa beliau chat saya.

Tak lama kemudian beliau membalas lagi, menanyai, “Gimana PA-nya?”

Betul saja, persis seperti dugaan saya. Beliau pasti ingin menanyakan itu. Jujur saya gemetaran. Saya tak tau harus jawab apa. Setelah sekian lama menghilang, masa iya saya bilang saya belum juga ada progress. Tapi…

“Iya pak.. sejujurnya saya belum mulai nge-TA lagi”, saya memilih pasrah menjawab apa adanya. Biarlah apapun jawab beliau nantinya. Balasan tersebut pun saya kirimkan. Lalu saya mengetik kembali bahwa sampai saat ini saya masih menguatkan diri.

Belum sempat saya kirimkan, beliau sudah keburu membalas chat saya.

“Oke gpp, asal PA tetap masuk dalam agenda kamu”. Apa mungkin beliau mengira bahwa saya akan menyerah?

Tapi.. rasanya lega sekali membaca balasan beliau. Saya pikir beliau akan marah. Saya takut saya yang tak ada kabarnya, yang tak pernah ke kampus lagi, yang sekian lama tidak menemui beliau, akan jadi masalah baru dalam PA saya. Doa-doa yang saya mohonkan pada Tuhan untuk kelembutan hati para pembimbing dan penguji saya, diperlihatkan-Nya kali ini.

“Saya sampe skrg masih menguatkan diri pak”. Teks yg  sudah saya ketik jadi saya kirimkan. Saya ingin bercerita pada beliau bahwa saya yang tidak bisa menyelesaikan sistem saya, saya kecewa sekali dengan diri sendiri. Sehingga saya tak bisa maju ke sidang akhir, dan kemudian gagal wisuda tahun ini, saya merasa sangat terpukul. Ini rasanya berat sekali buat saya. Saya berusaha menguatkan diri. Berteman waktu untuk menyembuhkan diri.

“Iya pak.. insyAllah PA tetap ada pak dalam list agenda saya”.

“Saya skrg sedang ngajar privat lagi pak.. sama ada part time sedikit”, entah kenapa rasanya saya ingin mengabarkan hal ini pada beliau. Saya ingin beliau tahu apa yang saya kerjakan.

“Pak.. makasih ya sudah ditanyain”, balas saya kemudian. Saya haru mengetikkan balasan ini. Saya merasa tersadar bahwa beliau pun ternyata memperhatikan dan mengkhawatirkan saya.

“Baik, take your time”

“Kasih tahu saya kalau sudah siap kembali bertempur”

Saya jadi tahu beliau pun mencoba memahami saya. Beliau mau mengerti. Beliau menunggu saya.

“Oke pak, siap! :)”

Kemudian aplikasi messenger di hp saya kembali diam.

Saat Terpaksa ke Kampus Lagi

Hari ini saya ‘terpaksa’ ke kampus. Sebuah permintaan tolong kemarin menyambangi lewat telepon, meminta saya untuk menjadi MC sebuah acara. Saya tak kuasa menolak. Kebaikan seseorang pada kita acap kali membuat kita sungkan untuk mengatakan ‘tidak’. Sepertinya membantu kembali adalah cara terbaik untuk membalas kebaikan-kebaikan yang orang lakukan untuk kita.

Sudah berapa lama saya tidak bangun dan mandi sepagi ini?”, tiba-tiba pertanyaan ini melintas begitu saja di kepala saya saat mandi tadi.

Ah ya, saya terpaksa harus mengetik kata ‘terpaksa’ di awal post ini. Sebab memang saya tidak belum mau mengunjungi kampus untuk saat ini. Kenapa?

Di kampus, ada banyak jalur jalan yang bisa dilalui. Mereka akan memilih jalur paling sepi. Orang-orang yang mereka temui dengan ringan sekali melemparkan basa basi: ucapan selamat, pertanyaan kapan wisuda atau sudah melamar kerja dimana. Mereka memilih senyum seadanya sambil dengan cepat mengeluarkan jawaban-jawaban bohong. Demi menghindari bercerita lebih panjang, mengorek cerita lama, membuat hati makin lara.

Jangan tanyakan apapun tentang kampus pada meraka yang gagal wisuda tepat waktu. Kau tak akan pernah mengerti apa yang  mereka rasakan. Kau juga tak akan pernah tau bagaimana mereka berusaha melawan diri sendiri, menghadapai berbagai tekanan untuk kembali berjuang. Jangan tanyakan apapun pada mereka, kecuali saat mereka telah selesai nanti atau kau boleh bertanya jika kau adalah salah satu dari mereka.