Seandainya Tidak

Seandainya menyerah tidak akan menyakiti hati mereka, orang-orang yang mencintai saya dan saya cintai, tidak membuat mereka kecewa, tak menjatuhkan linangan air mata, tak membuat dada mereka sesak, seandainya tidak, maka saya akan memilih menyerah. Merelakan segalanya, yang sudah saya korbankan selama ini. Melepaskan semuanya.

Biarlah saya pergi entah kemana. Sudah lama sekali hati dan pikiran saya selalu dibalut kebingungan dan ketakutan. Kekalutan. Agar saya bisa merasakan lagi hati yang lapang. Tak apa… jikapun harus mengulang semuanya dari awal. Asalkan saya bisa merasakan lagi diri saya sendiri seperti dulu. Mengerti apa yang sedang saya lakukan. Paham apa yang saya kerjakan. Tau kemana kaki akan saya langkahkan. Agar saya bisa menata diri, agar saya mampu menatap ke depan, berani kembali untuk sekedar bermimpi.

Sepertiga Terakhir

201603080747-490x327

Selamat pagi, Jiwa…
Jiwa yang dilanda kebingungan
Dari mana kah harus memulai kembali?
Semua jadi seperti benang yang kusut
Mengurainya entah apa yang harus dilakukan
Jiwa yang diselimuti ketakutan
Akan apa dan siapa yang harus dihadapi di depan
Tuhan, apakah yang salah dariku sehingga sedemikian berat jalanku sekarang?
Tuhan, tolong pegangi aku di sepertiga jalan terakhir yang harus aku tuntaskan
Tolonglah, Tuhan…

Saat Terpaksa ke Kampus Lagi

Hari ini saya ‘terpaksa’ ke kampus. Sebuah permintaan tolong kemarin menyambangi lewat telepon, meminta saya untuk menjadi MC sebuah acara. Saya tak kuasa menolak. Kebaikan seseorang pada kita acap kali membuat kita sungkan untuk mengatakan ‘tidak’. Sepertinya membantu kembali adalah cara terbaik untuk membalas kebaikan-kebaikan yang orang lakukan untuk kita.

Sudah berapa lama saya tidak bangun dan mandi sepagi ini?”, tiba-tiba pertanyaan ini melintas begitu saja di kepala saya saat mandi tadi.

Ah ya, saya terpaksa harus mengetik kata ‘terpaksa’ di awal post ini. Sebab memang saya tidak belum mau mengunjungi kampus untuk saat ini. Kenapa?

Di kampus, ada banyak jalur jalan yang bisa dilalui. Mereka akan memilih jalur paling sepi. Orang-orang yang mereka temui dengan ringan sekali melemparkan basa basi: ucapan selamat, pertanyaan kapan wisuda atau sudah melamar kerja dimana. Mereka memilih senyum seadanya sambil dengan cepat mengeluarkan jawaban-jawaban bohong. Demi menghindari bercerita lebih panjang, mengorek cerita lama, membuat hati makin lara.

Jangan tanyakan apapun tentang kampus pada meraka yang gagal wisuda tepat waktu. Kau tak akan pernah mengerti apa yang  mereka rasakan. Kau juga tak akan pernah tau bagaimana mereka berusaha melawan diri sendiri, menghadapai berbagai tekanan untuk kembali berjuang. Jangan tanyakan apapun pada mereka, kecuali saat mereka telah selesai nanti atau kau boleh bertanya jika kau adalah salah satu dari mereka.