Sampai Jumpa

26harikita

Untuk 26 hari yang luar biasa, sebuah undreamable journey, perjalanan pertama sekaligus terakhir. Tak mungkin bisa diulangi lagi, sebab salah satu dari kita sudah pergi jauuuh tak akan pernah kembali.

Sampai Jumpa – Endank Soekamti

datang akan pergi
lewat kan berlalu
ada kan tiada
bertemu akan berpisah

awal kan berakhir
terbit kan tenggelam
pasang akan surut
bertemu akan berpisah

hei sampai jumpa di lain hari
untuk kita bertemu lagi
ku relakan dirimu pergi

meskipun ku tak siap untuk merindu
ku tak siap tanpa dirimu
ku harap terbaik untukmu

Cwan-Kojep-Dulce-Esme-Unyud
Singapura, 17 Maret 2014 – 11 April 2014

Interpersonal

Gua selalu salut sama orang yang bisa banget nyambung sama siapa aja. Ngobrol apa aja klik. Gua juga salut banget sekaligus kagum sama orang yang hadirnya menghangatkan suasana. Beberapa temen gua yg seperti itu adalah Siti dan Nose.

Kadang ya pengen bisa kayak mereka. Tapi something just doesn’t work if it is you gak bisa dipungkiri memang bener adanya. Bahkan meskipun hal-hal yg lu lakukan udah persis sama.

Hal-hal tertentu kayaknya memang udah jadi bawaan lahir, alami pemberian Tuhan sejak manusia masih hidup dalem perut. Termasuk kemampuan seseorang berkomunikasi ke orang lain, a.k.a interpersonal (insyaAllah pemahaman gua bener).

Walaupun begitu, baiknya Tuhan adalah akan tetap selalu ada orang-orang (tertentu) yang bisa lu ajak ngobrol dengan klik. Dalam catatan tertentu ya.

Gua bukan termasuk ke dalam dua tipe orang yang udah gua sebutkan diatas. Lebih cenderung kaku, cuma sesekali berinisiatif memulai topik pembicaran, seringkali merasa kehabisan bahan ngobrol, etc. Intinya interpersonal gua lumayan buruk. Dan akhirnya diem.. dingin.. senyap. Tapi seringkali (dan gua juga kaget) ada aja orang-orang tertentu yang bisa nyambung saat gua ajak ngobrol, bahkan meskipun baru jumpa banget. Gua ber-alhamdulillah sekali untuk hal ini. Biar gua cerita lebih lanjut…

Tadi malem, abis dari ngumpul bareng temen-temen karena salah satu dari kita akan on job training pekerjaan pertamanya, yaitu Nose, gua dan Ari akhirnya jadi gunting rambut di tempat biasa. Udah lelah dan ngantuk tapi males mau keluar lagi kalo udah pulang ke kos. Pas di mbak kasirnya, kita pun bilang mau gunting rambut. Kalo Ari sama mas yang mana aja gapapa. Kalo gua mintanya sama Mas Kibo kayak biasa. Tapi, mas nya lagi gak masuk karena lagi sakit. Jadilah gua resah. Ada dua orang stylist yg lagi gunting. Tapi tetep aja itu bukan Mas Kibo.

Bahkan untuk urusan gunting rambut pun gua pemilih lho, pemirsa. Maafkan. Dulu di tempat yang lama juga sama. Gak mau gunting rambut kalo diguntingnya gak sama Mas Yudi. Semenjak mas nya resign gua gak pernah dateng lagi kesana.

Kita duduk ngantri. Sambil gua ngantuk dan resah dengan mas mana nanti guntingnya. Mas yg satu selesai lebih dulu. Terus nanyain kita, siapa yang mau duluan. Gua bilang ke Ari supaya biar gua aja. Weyo? Menurut insting gua, kayaknya gua akan lebih nyambung dengan mas yang ini daripada mas yang satu lagi.

Gua berdiri dan mas nya nanyain apa gua lagi pake minyak rambut. Gua bilang ini cuma vitamin. Tapi mungkin keliatan berminyak sama mas nya dan mungkin mau dicuci dulu sebelum digunting. Dan bener setelah gua tanya.

Gua memberanikan diri untuk bersikap ramah dengan nanya-nanya lebih dulu. Alhamdulillah nyambung. Dan gak cuma gua yang sibuk nanya-nanya, mas nya juga mau gantian nanya balik. Namanya Mas Carel. Obrolan pun jadi panjang sampe gunting rambut selesai. Bahkan Ari selesai gunting lebih dulu. Wkwk. Kita bahkan ngobrol dari masalah nama, asal, umur, suku, keluarga, sampe masalah calon jodoh. Ini yang gua sebut dengan akan tetap ada orang tertentu yang bisa lu ajak ngobrol dengan klik.

Belajar Dari Berharap

1456562080585[1]

Saya belajar berbesar hati dari setiap kegagalan yang saya dapat. Setelah semua kerja keras yang saya lakukan dan doa-doa yang saya rapalkan dalam bingkai perjuangan yang seringkali tidak mudah.

Ada kalanya kegagalan membuat saya lebih berpacu. Menjadikannya sebagai sebuah cambukan. Bahwa usaha-usaha yang saya lakukan mungkin harus saya lebihkan. Doa-doa yang saya panjatkan mungkin harus lebih saya khusukkan. Niat yang saya pasang di awal mungkin harus saya benahkan. Hingga akhirnya saya disampaikan pada suatu titik yang saya angan-angankan.

Tapi, Tuhan.. bukan saya tidak bisa bersyukur dengan apa yang Kau berikan. Saya ingin jujur.. bahwa seiring waktu, kegagalan demi kegagalan membawa saya pada kekecewaan. Yang pada akhirnya membuat saya lelah juga. Lelah berjuang dan lelah berharap. Sehingga saya juga belajar. Untuk menjadi lebih realistis dengan kehidupan. Harapan yang lebih sering kandas membuat saya takut dininabobokan angan-angan.

Katanya, kalaulah ada hal yang membuat anak manusia mau terus berjuang melanjutkan hidupnya, alasan itu pastilah bernama impian. Tak peduli betapa menyakitkan jalanan yang harus dilalui. Tapi, pada titik ini, saya belum berani untuk bermimpi lagi, Tuhan. Sebab saya belum sanggup jika saya harus kecewa lagi. Saya mohon biarkan saya coba untuk menjalani semuanya seperti air mengalir. Sambil saya menyembuhkan luka dan menguatkan diri.

Kemudian, satu lagi yang saya mohonkan pada-Mu, Tuhan. Agar saya diberikan lebih kesabaran dan kekuatan. Sebab hal-hal yang tidak diinginkan tak bisa ditolak datangnya. Dengan begitu nanti saat hal-hal tersebut datang, saya bisa bertahan.

Seandainya Tidak

Seandainya menyerah tidak akan menyakiti hati mereka, orang-orang yang mencintai saya dan saya cintai, tidak membuat mereka kecewa, tak menjatuhkan linangan air mata, tak membuat dada mereka sesak, seandainya tidak, maka saya akan memilih menyerah. Merelakan segalanya, yang sudah saya korbankan selama ini. Melepaskan semuanya.

Biarlah saya pergi entah kemana. Sudah lama sekali hati dan pikiran saya selalu dibalut kebingungan dan ketakutan. Kekalutan. Agar saya bisa merasakan lagi hati yang lapang. Tak apa… jikapun harus mengulang semuanya dari awal. Asalkan saya bisa merasakan lagi diri saya sendiri seperti dulu. Mengerti apa yang sedang saya lakukan. Paham apa¬†yang saya kerjakan. Tau kemana kaki akan saya langkahkan. Agar saya bisa menata diri, agar saya mampu menatap ke depan, berani kembali untuk sekedar bermimpi.

Sepertiga Terakhir

201603080747-490x327

Selamat pagi, Jiwa…
Jiwa yang dilanda kebingungan
Dari mana kah harus memulai kembali?
Semua jadi seperti benang yang kusut
Mengurainya entah apa yang harus dilakukan
Jiwa yang diselimuti ketakutan
Akan apa dan siapa yang harus dihadapi di depan
Tuhan, apakah yang salah dariku sehingga sedemikian berat jalanku sekarang?
Tuhan, tolong pegangi aku di sepertiga jalan terakhir yang harus aku tuntaskan
Tolonglah, Tuhan…