Hujan Yang Belum Deras

Aku harus berterimakasih pada hujan yang belum deras siang tadi
Yang memaksaku bergegas mencari tempat berteduh
Hingga membawaku pada sebuah pemberhentian: Dirimu.

Kita sama terkejutnya.
Sama-sama tak menyangka bertemu lagi setelah entah berapa lama.
Mata yang awas, senyum yang lepas dan bahasa tubuh yang lugas. Dirimu tak berubah.
Lama kita tak berjumpa, tapi aku bisa merasakan hangat pelukmu tetap sama.

Pesanmu Pagi Ini

Pada pagi yang hampir siang ini, wajah langit redup. Iring-iringan awan yang mengabu. Hembusan angin menyapu apa-apa yang dilewatinya, termasuk wajahku. Di warung es tebu tepi jalan ini aku duduk. Sendiri selepas rekan kerjaku beranjak lalu. Dingin. Hening.

Gerimis yang kemudian turun menyadarkan lamunanku. Kubalap motorku menuju kosku.

Adalah adikmu yang mengirimkan sebuah pesan pagi ini. Sebuah permintaan tolong, begitu ia menyebutnya. Untuk menghapus beberapa fotomu dari instagramku. Katanya itu pesanmu, yang tak sengaja kau sampaikan padanya. Tentu saja kuiyakan. Sedikit berat sebenarnya bagiku. Tapi kalau itu memberatkanmu pula di dunia barumu, aku tak boleh egois lagi kan seperti dulu?

Hari ini menjadi hari yang ke-23 kau pergi. Kataku di hari kepergianmu, aku tak akan pernah melupakanmu. Kutafsirkan bahwa pesan adikmu pagi ini mungkin adalah caramu mengingatkanku dari sana. Bahwa belakangan ini aku mulai mengingkari kata-kataku. Maafkan aku. Akan kurapal lagi doa-doa untukmu, akan kubacakan yasin untukmu seusai shalat fardhuku.

Maaf.

My Dul

Dul.. cepet banget lu pergi. Gua ga pernah nyangka. Padahal temenan sama lu, menghabiskan waktu bareng lu, itu asik. Lu baik orangnya. Ga tukang marah, ga suka merajuk (kayak gua), meskipun lu digangguin ini itu. Gua baru sadar kalo lu itu lucu ternyata.

Dul… maapin yaa kalo gua sering jahat, suka ga peka sama lu, suka mengabaikan perhatian-perhatian lu, bahkan beberapa kali bikin lu nangis. Maapin gua yaa, dul… gua kangen deh dijahilin sama lu.

Btw, gua udah potong rambut kayak yang lu bilang, yang tipis di bagian samping terus bagian atas dibiarin panjang rapi. Kayaknya bener deh yang lu bilang, gua jadi ganteng wkwk… buktinya banyak tuh orang-orang pada curi-curi pandang ke gua. Kemeja warna dongker dan biru muda sama kemeja flanel, yaa? Oke, dul… ntar gua bakal beli dan pake. Tapi, kalo ngurangin porsi makan supaya perut gua ga mancung lagi… hmm kayaknya susah, dul. Padahal gua yang sering ngeluh perut mancung ke lu yaa. Hahaha. Tapi… ya oke lah, akan gua coba. Hehe.

Dul… banyak hal luar biasa yang gua lewatin bareng lu. Mulai dari seleksi beasiswa tingkat provinsi, jadi temen belajar dan ngerjain tugas kampus bareng, kita sama-sama ngurusin pencairan beasiswa, ikutan student exchange ke Singapore, bareng-bareng susulan yang super riweuh, sampe partner-an kerja praktek di Duri. Gua bangga dan bahagia pernah melewati itu semua bareng lu, dul.

Makasih ya, dul.. karena udah jadi lebih dari sekedar temen yang baik banget, makasih juga udah perhatian banget sama gua. Gua ga akan lupa sama lu, dul. InsyaAllah gua bakal sering-sering kirim doa dan bacain al-fatihah sama yasin buat lu.

Dul… jangan bener-bener ngilang sama sekali dong. Sesekali dateng gitu dalem mimpi. Biar kita bisa cerita-cerita lagi. Kangen banget gua dul sama lu.

Dul / Tih / Tuti – the one who call me Unyud / Yud / Tinker Bell / Yudai
25 Juli 1993 – 02 Februari 2016

You Just Don’t Suit Them

Pernah gak lu join di suatu grup, a social media group chat, lu dengan status anak baru yang belum tau apa-apa, terus lu nyoba ramah sama siapa aja yang ada di sana, tapi… tetep aja lu kayak.. let say gak dianggap.

I feel that lately, that just brought me to a chat with my friend, Amel. I chat her first of course.

Beberapa orang punya tipenya sendiri.
Yang sepertinya kadang memang gak cocok dengan beberapa tipe orang lainnya.
Gak peduli seberapa pun kerasnya lu nyoba.

Orang-orang yang agak minder dan perasa biasanya emang sedikit lebih susah untuk bisa berbaur.
Apalagi ke orang-orang yang kekinian, punya dunianya sendiri, yang istilahnya mengeksklusifkan diri.
Kalo lu berusaha blend sama mereka, yang ada malah lu yang susah.

Lu gak perlu terlalu berusaha
Nanti akan ada saatnya lu ketemu diantara mereka yang cocok sama lu.

Cobalah untuk bikin pendekatan secara individu, bukan grup.
Pendekatan secara personal.
Karena kalau di grup, when you try to fit inerr sulit!
They live not in the same world with you.
Itu intinya!

So, just be yourself.
Biar ga lelah.
🙂

Ada kalanya lu harus ignore.
Ada kalanya lu kayak.. oke gue akan usaha terus.. berusaha yang terbaik dan apa yang bisa gue lakukan untuk grup ini.
Sambil berjalannya waktu, they will notice you!

Thanks a lot, Mel.
I will try. I will do that.

 

Mentor Dingin

Saya bahkan mencoba menyapanya lewat twitter, kepala saya pusing memikirkan kata apa yang harus saya tulis dalam 140 karakter. Dia bahkan seperti tidak mendapatkan notifikasi apapun.

Saya bahkan susah payah mengiriminya chat yang panjang dalam bahasa Inggris. Dan dia hanya membalasnya dengan tiga kalimat singkat.

Ah, mentor itu!