Seribu Wajah Ayah

Untuk dirimu yang entah kenapa makan pun masih suka disuapi Ibu, tapi begitu kaku saat bersama Ayah. Setiap kali kau pulang ke rumah saat libur sekolah, rasanya seluruh tegur sapamu dengan Ayah bisa dibuat menjadi semacam daftar to-do-list harianmu:

  1. Tepat saat kau baru saja tiba di rumah, setelah Ibumu menyambut kedatanganmu dengan sesimpul senyum, peluk dan tentu saja ciuman dipipimu, kau akan mencari Ayah, meraih tangannya lalu meletakkan punggung tangannya ke keningmu.
  2. Keesokan paginya, ia akan memintamu untuk mengantar adikmu ke simpang, tempat adikmu menunggu oplet yang akan mengantarnya ke sekolah. Kemudian ini akan menjadi rutinitas pagimu sampai kau pulang lagi ke kota.
  3. Lalu beberapa hari kemudian saat kau sarapan bersama Ibumu, dan kadang-kadang juga Ayahmu, di emperan belakang ia akan menanyakan berapa lagi uang yang masih tersisa di dalam ATM-mu.
  4. Dan ketika kau akan pulang ia akan memberikan uang untukmu, sambil berpesan agar selalu hati-hati menggunakannya sebab pokok sawit di ladang belakang rumah sedang tidak bagus produksinya, dan tentu saja hal yang tak pernah lupa dia ingatkan: agar selalu membaca-baca shalawat selama di perjalanan.

Empat hal saja. Tak kurang.

Itulah kenapa kau membeli novel ini. Itu pula alasan kenapa kau mendahulukan untuk membacanya dibanding dua novel lainnya.

Kau harus berterima kasih kepada penulis novel ini.

Lewat novel ini kau diingatkan kembali akan cinta seorang Ayah kepada anaknya. Meski tak sama dengan yang diceritakan oleh penulis, tapi kau yakin Ayahmu punya caranya sendiri. Meski dengan cara yang berbeda, tapi kau yakin Ayahmu juga sama sejatinya sebagai seorang pecinta: Ayahmu punya kemantapan hati dan kemampuan. Bukan perayu atau pembual dan bukan peragu.

Lewat novel ini kau diingatkan pula tentang makna hidup, cinta dan hakikat penciptaan manusia. Persis seperti yang Ayahmu bilang dalam teleponnya saat sesekali Ia rasa sudah waktunya untuk menasehatimu.

Selepas ini, kau harus berjanji. Kau akan mengingat-ingat semua perhatian yang seringkali tak ditampakkannya. Bait-bait doa yang tak pernah putus mengalir untukmu, begitu Ibumu selalu bilang. Anti nyamuk yang tak lupa ia bakarkan di bawah tempat tidurmu. Mengecat dinding kamarmu begitu kau memberi kabar kau akan pulang. Menyelamatkan sepatu atau sandalmu ke bawah tempat tidur belakang, sebab kau sering kali lupa memasukkannya ke dalam rumah saat hari hujan atau saat malam datang. Bakal baju yang diam-diam ia jahitkan ke penjahit langganannya untukmu dengan warna serupa. Juga sepotong ikan yang dilarikannya ke piringmu dari sanginya sendiri saat dilihatnya tak ada lagi ikan di sangi sebelah.

Kau harus berjanji, tak akan lupa untuk selalu menghadirkannya dalam doa-doa setelah shalat khusyukmu. Kau akan memeluk nasehat-nasehatnya sebagai penuntun jalanmu. Kau akan belajar dan tumbuh dewasa memaknai hidup. Menjadi pecinta yang sama sejatinya seperti Ayahmu.

Advertisements

Beli kedondong uang receh, komen dong biar kece.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s