Chat dari Dosen Pembimbing

Sebuah pop up dari aplikasi messenger di hp saya muncul. Hanya satu kata saja yg terlihat sebelum pesan itu saya buka, yaitu nama panggilan saya. Saya tidak mengenali foto profil pengirimnya. Karena itu saya tarik ke bawah panel notifikasi di sebelah atas hp saya. Baru lah saya tahu setelah membaca nama pengirimnya. Tak lain adalah Pembimbing 2 Proyek akhir (PA) saya. Saya kaget. Saya langsung bangkit dari tidur-tiduran saya.

Apakah gerangan sehingga beliau pula yang memulai chat ke saya.

Tunggu dulu. Saya memang sudah lama sekali tidak menemui pembimbing PA. Kira-kira sudah 2 bulan sejak saya dipastikan tidak bisa lagi maju ke sidang akhir dan gagal wisuda tahun ini, karena sistem saya yang tak kunjung bisa saya rampungkan. Sejak itu hanya ada sekali saja saya bertemu beliau, sewaktu acara makan bersama anak kelas dan dosen prodi, katanya acara ngumpul terakhir sebelum masing-masing pergi entah kemana. Pada waktu itu sewaktu salam-salaman beliau bilang ke saya agar tetap semangat dan beliau akan berdoa untuk saya.

Saya ragu, apakah harus membuka chat itu dgn segera atau nanti saja. Tapi hati saya bilang untuk segera membukanya. Saya keluar dari kamar menuju balkon, sebab di kamar saya jaringan sering hilang. Barulah saya beranikan diri untuk membuka chat dari beliau dan membalas dengan, “Iya pak..”

Sepertinya cuma kata itu yang bisa saya ketik. Tak mungkin pula saya menanyakan kenapa beliau chat saya.

Tak lama kemudian beliau membalas lagi, menanyai, “Gimana PA-nya?”

Betul saja, persis seperti dugaan saya. Beliau pasti ingin menanyakan itu. Jujur saya gemetaran. Saya tak tau harus jawab apa. Setelah sekian lama menghilang, masa iya saya bilang saya belum juga ada progress. Tapi…

“Iya pak.. sejujurnya saya belum mulai nge-TA lagi”, saya memilih pasrah menjawab apa adanya. Biarlah apapun jawab beliau nantinya. Balasan tersebut pun saya kirimkan. Lalu saya mengetik kembali bahwa sampai saat ini saya masih menguatkan diri.

Belum sempat saya kirimkan, beliau sudah keburu membalas chat saya.

“Oke gpp, asal PA tetap masuk dalam agenda kamu”. Apa mungkin beliau mengira bahwa saya akan menyerah?

Tapi.. rasanya lega sekali membaca balasan beliau. Saya pikir beliau akan marah. Saya takut saya yang tak ada kabarnya, yang tak pernah ke kampus lagi, yang sekian lama tidak menemui beliau, akan jadi masalah baru dalam PA saya. Doa-doa yang saya mohonkan pada Tuhan untuk kelembutan hati para pembimbing dan penguji saya, diperlihatkan-Nya kali ini.

“Saya sampe skrg masih menguatkan diri pak”. Teks yg  sudah saya ketik jadi saya kirimkan. Saya ingin bercerita pada beliau bahwa saya yang tidak bisa menyelesaikan sistem saya, saya kecewa sekali dengan diri sendiri. Sehingga saya tak bisa maju ke sidang akhir, dan kemudian gagal wisuda tahun ini, saya merasa sangat terpukul. Ini rasanya berat sekali buat saya. Saya berusaha menguatkan diri. Berteman waktu untuk menyembuhkan diri.

“Iya pak.. insyAllah PA tetap ada pak dalam list agenda saya”.

“Saya skrg sedang ngajar privat lagi pak.. sama ada part time sedikit”, entah kenapa rasanya saya ingin mengabarkan hal ini pada beliau. Saya ingin beliau tahu apa yang saya kerjakan.

“Pak.. makasih ya sudah ditanyain”, balas saya kemudian. Saya haru mengetikkan balasan ini. Saya merasa tersadar bahwa beliau pun ternyata memperhatikan dan mengkhawatirkan saya.

“Baik, take your time”

“Kasih tahu saya kalau sudah siap kembali bertempur”

Saya jadi tahu beliau pun mencoba memahami saya. Beliau mau mengerti. Beliau menunggu saya.

“Oke pak, siap! :)”

Kemudian aplikasi messenger di hp saya kembali diam.

Advertisements

Tulisan Yang Tertunda

Huiy efribadih!

Akhirnya, pagi ini jadi juga nulis. Padahal pengennya udah dari kemaren-kemaren. Hmm.. ada buanyak cerita yang mau ditulis. But not sure I can manage all of them.

First, kemaren tanggal berapa gitu rada lupa orang-orang pada ngerayain Hari Ayah. Buat saya, the real hero in my life ya udah pasti Ayah. Selain Mamak ya tentunya. Sepaket lah itu mereka. Saat ini saya Cuma mau bilang “Makasih atas semuanya. Maaf karena sampai sekarang anak mu ini belum jadi apa-apa”.

“Allahummagh-fir li wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira”

Oh iya, btw Hari Ayah itu tanggal 12 November (barusan cek twitter, hehe)

Second, tadaaaa saya mulai ngajar privat lagi. Setelah sekian lama ya, akhirnya. Wuhuuu! Tapi sekarang gak melalui bimbel lagi, main sendiri aja. Saya punya tiga orang murid, yang dua anak SMA dan yang satu anak SD. Sumpah ngajarin anak SD lebih enak. Tapi yang SMA bayarannya lebih mahal. Seminggu saya ngajar ada 4 kali. Enak sih, saya nyaman. Kenapa coba kemaren gak ambil FKIP? Wkwk

Third, update! Saya gak terpilih di program #MenyapaNegeriku. Ya gapapa sih. Banyak kandidat yang jauh lebih bagus dari saya.

Fourth, kontrak kerja verifikator elpiji udah mau habis, Desember ini. Yang artinya adalah… saya akan segera jadi pengangguran. Kiriman bulanan udah ga ada. Aaarrghh. Dapet duit dari mana coba. Gaji verifikator elpiji jauh lebih gede dong dari ngajar privat. Mesti cari kerja! Mesti cari kerja!

Fifth, temen-temen pada bikin ngiri. Beneran, serius! Mereka udah pada ngapa-ngapain. Mungkin harus di-list ya:

  • Udah diterima di perusahaan gede dan ternama, resmi jadi employee dengan gaji yang oke dan juga kerjaan yang pastinya improving their skills.
  • Udah ada yang bikin usaha sendiri semacam rumah software, rumah multimedia, rumah es krim dan rumah-rumah lainnya. (Rumah tangga?)
  • Ngajar di kampus, jadi semacam asisten lab gitu. Dari yang tadinya diajarin, sekarang ngajarin. Dari yang tadinya diawasin pas ujian, sekarang ngawasin.
  • Lanjut S2 (sementara saya S1 aja belum selesai) dan parahnya mereka yang S2-nya ke luar negeri. Turki brooo, Inggris, Jepang, Amerika, Jerman. Aduuuhhh! Entah pake biaya sendiri atau yang jelas-jelas bikin ngiri yang pada dapet beasiswa. Ya Allah, mereka keren parah!!! Susulkan saya ke sana, tolooong…

Sixth, sementara itu di sisi lain ada yang keberuntungannya gak datang secepat mereka. Ada yang udah masukin lamaran berkali-kali, tetep belum dapet panggilan. Ada yang dateng mau ikut seleksi eh disuruh pulang karena tinggi badan gak mencukupi. Ada yang udah diterima, eh gajinya gak oreo dan akhirnya nolak. Hmmm.. sepotong drama kehidupan.

Seventh, yes rumah tangga! Vina, temen sekelas dan se-klub matem pas SMA dulu. Postingan yang Surat dari Seorang Sahabat (2) itu btw adalah surat dari dia 🙂 Vina itu… salah seorang sahabat yang enak banget jadi temen ngobrol, suka masakin apa-apa kalo pas kos dulu, suka pinjemin novel Tere Liye yang bikin saya jadi suka sama penulis ini, pokoknya baiiiik banget.

Happy wedding, Vina dan Bg Aan. Semoga jadi keluarga bahagia sampe ke anak cucu. Amin 🙂

Ga pernah kepikiran dia bakal nikah secepat itu wkwk. Saya sering ledekin dia masih kecil haha. Tapi dia bilang bukan masalah kecil atau besar, tapi masalah siap atau enggak. And it means that dia udah siap. Saluuut. Hari itu (2 hari yang lalu) kita sekelas datang dong ke pestanya Vina. Terus seperti biasa: heboh. Apa-apa pada heboh, ngobrol heboh, foto heboh, selfie heboh, makan juga heboh. Kayak ga tau malu sama tamu yang lain 😀

Eighth, udah dulu.. kapan-kapan lanjut lagi. Ntar jadinya panjang banget ini tulisan. Kan jadi males baca 😀

Anyway, Pekanbaru lagi musim hujan 🙂

Menyapa Negeriku (1)

(Sumber: dikti.go.id)

(Sumber: dikti.go.id)

Meski baru sekedar mendengar cerita dari para pembicara langsung atau pun dari berbagai social media, saya kerap kali terkagum-kagum dengan para sarjana yang mau mengabdikan dirinya ke pelosok-pelosok negeri. Berbekal sarjana, mengapa perlu repot-repot ke daerah-daerah terpencil, bersusah-susah dalam kehidupan tanpa listrik, tanpa mall, tanpa sinyal dan segala macam?

Pagi itu, seorang pengajar muda program Indonesia Mengajar menjadi pembicara dalam kuliah Kapita Selekta di kampus saya. Beliau adalah seorang sarjana yang jauh-jauh datang dari Jawa Barat untuk mengabdikan diri ke Rupat. Ada banyak cerita luar biasa yang beliau bagi. Bahwa tak selayaknya kita duduk di bangku pendidikan seorang diri saja, menjadi terdidik seorang diri saja, melihat dunia luar seorang diri saja. Ada banyak anak negeri di berbagai daerah pelosok yang harus kita gandeng dan juga rangkul untuk bisa mendapatkan hal serupa melalui diri kita. Terimakasih mbak Naluri, karena sudah menginspirasi saya, menyentil sisi kepedulian saya sebagai seorang insan pelajar.

Kali ini saya memberanikan diri mencoba mengambil kesempatan lewat program Menyapa Negeriku. Saya ingin membagi apa yang saya punya, bahkan meskipun sekedar waktu, kepada anak-anak negeri nun jauh di pelosok sana.

Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara, semoga kita berjodoh.

Selamat pagi, November (1)

Sudah sejak 2 hari yang lalu, rasanya ada banyak cerita yang harus saya sempatkan di blog ini. Entah kenapa saya mengatakannya ‘harus’. Mungkin supaya setahun dua tahun atau N tahun kemudian saya bisa tersenyum-senyum saat membaca ulang sambil berkata dalam hati bahwa saya pernah punya beberapa hari seluar biasa hari-hari kemarin itu.

Baiklah, saya akan mulai cerita.

Setiap orang barangkali punya satu atau mungkin banyak hal yang menurutnya cukup hanya dirinya dan Tuhan saja yang perlu tahu. Orang lain tak perlu. Sore itu saya kira menjadi waktu dimana ada satu orang baru yang tahu apa yang sekian lama saya jaga. Saya ketar-ketir kalau boleh jujur. Dia juga pasti sama terkejutnya dengan saya. Saya tak bisa berpikir sikap apa yang harus saya ambil. Saya cuma bisa diam. Tapi dia teman yang baik sekali, melalukan tanpa banyak tanya. Mungkin itu sebabnya kenapa Tuhan mengizinkannya tahu.

Buah tangan, apalagi jika dibawa dari jauh, yang disengajakan untukmu, adakah yang membuatmu merasa lebih istimewa dari hal itu? Saya kira tidak. Bagaimana mungkin ada hal lain lagi yang lebih istimewa jika itu artinya kau adalah orang yang ada dalam pikirannya bahkan saat kau tak membersamainya? Tapi, saya menemukan bentuk lain dari hal tersebut, yang membuat saya merasa sama istimewanya.

Malam itu dua orang adik kelas saya baru saja beberapa hari kembali dari pertukaran pelajar di Singapura. Mereka chat saya sebab katanya kangen. Kemudian meminta saya datang untuk sama-sama menonton basket. Dari detik pertama saya sampai di hall itu sampai waktunya pulang, pertandingan basket itu tak lebih hanya jadi latar saja. Latar untuk cerita-cerita mereka yang mereka ceritakan dengan semangat empat lima. Menjadi tempat untuk bukan hanya cerita bahagia mereka, saya menemukan bentuk lain dimana saya merasa istimewa bagi orang lain.