You Are Alone

Hai pembaca yang baik hati 🙂
Hari ini mau nulis sedih gapapa yaa..

Pernah gak sih ngerasa saat orang-orang butuh bantuan mu, kamu ada untuk mereka.
Tapi giliran kamu yang butuh pertolongan, gak seorangpun datang mengulurkan tangan, bahkan meski kamu udah minta tolong.

— Terancam tunda wisuda —

[Novel Review] Cerita Cinta Sehari

Laut. Sosok laki-laki sempurna. Ganteng, tinggi tegap, pintar, mandiri, sopan, tenang (just like his name). Center of attraction dimanapun berada. Paket komplit bernilai 100.

Plash. Gadis cantik, periang, modis, cerdas dan berprestasi. Udah pas banget lah sama si Laut itu.

Nah, mereka berdua udah pacaran selama 3 tahun.

20150726_221807

Suatu hari, dalam perjalanan menuju gedung pertunangan usai dari mengurus visa studi master nya ke Jerman, Plash kecelakaan. Akibat kecelakaan itu, Plash jadi amnesia total. Plash lupa semuanya. Jangankan untuk mengingat Laut, melakukan aktivitas sehari-hari aja Plash lupa bagaimana caranya. Plash jadi seperti anak kecil lagi. Segala sesuatunya harus diajarkan dari awal.

Plash berjuang  dalam hidupnya yang kini terasa serba asing. Laut selalu ada di samping Plash, tak pernah tega membiarkan kekasihnya menjalani kehidupan barunya seorang diri. Bukannya tak ada air mata, tapi Laut percaya akan mimpi cintanya. Bahwa suatu saat nanti, memori Plash akan pulih. Dan mereka bisa kembali melanjutkan hidup sabagai pendamping bagi satu sama lain. Hal itu yang membuat Laut tetap tegar.

Perlahan, waktu berjalan. Empat tahun Laut mendampingi Plash dengan kesetiaan yang tak terbantahkan. Plash berhasil bangkit dalam hidupnya yang baru. Tapi sayangnya, Plash terlahir menjadi pribadi baru yang mencintai kakak kandung Laut sendiri.

Laut hancur. Ia merasa kesetiaan dan pengorbanannya selama ini sia-sia. Besarnya rasa cinta kepada Plash membuat Laut dilema, apakah harus melepas cinta yang sudah 7 tahun ia pertahankan ataukah harus tetap bertahan mencintai tapi tak berbalas.

Bacaan Baru

Hai, fans setia dimanapun kalian berada. Kembali lagi bersama blogger paling yes sejagat raya.

Kali ini gua mau nulis tentang novel yang baru aja gua baca tuntas dalam mungkin kurang lebih cuma 5 jam. Yap, LIMA jam, padahal ada 314 halaman. Begitulah kalau udah penasaran sama ceritanya.

Sebelumnya, ada bonus buat kalian. Yaitu tentang latar belakang (kayak karya tulis) bagaimana novel ini bisa sampai ke tangan gua.

Jadi ceritanya gua diminta nemenin temen yang mau potong rambut di salah satu mall. Singkat cerita dia pun selesai potong rambut setelah susah payah nyari barbershop karena pada penuh. After that, kita berdua bingung mau ngapain. Masa iya mau langsung pulang. Terus gua ngajakin ke Gramedia yang ada di mall itu juga. Tapi, ga nemu sesuatu yang rasanya pengen dibeli. Terus kita laper dan berencana makan di KFC yang ada di lantai 1.

Pas turun dari eskalator kelihatan ada semacam bazar buku murah. Yang ternyata adalah dari Gramedia juga. Jadinya kita mampir untuk melihat-lihat (keramaian yang ada). Terus mata gua menangkap tumpukan-tumpukan buku yang udah gak asing lagi bagi gua sebagai tanda itu adalah buku murah. Dalam hati gua teriak kesenangan. Pilih pilih bongkar ini bongkar itu, gua menemukan banyak sekali buku bagus. Dan murah tentunya. Sampe gua bingung mau beli yang mana. Pengennya beli semua. Tapi duit di dompet lagi gak bersahabat. Kalo kebanyakan beli nanti juga takutnya malah gak kebaca. Selain itu nanti pasti jadi tambah ngerasa berdosa karena malah baca buku-buku baru padahal ada banyak referensi-referensi TA yang lebih penting yang harus dibaca saat ini.

Akhirnya gua pun memutuskan beli satu aja, yang itu adalah novel. Pas baca sinopsis disampul belakang kayaknya novelnya bagus. Dan harganya cuma sepuluh ribu rupiah (gak sampe hati nulis pake angka). Padahal harga aslinya 49.000 rupiah loh. Fix, gua beli ini aja.

Eh, waittt… tampaknya bonus yang gua kasih udah terlalu panjang dan bikin eneg, jadi langsung aja yaa nulis tentang novelnya. Judulnya adalah… jeng jeng jeng… “Cerita Cinta Sehari”.

(bersambung ke post berikutnya)

Mengunjungi Masa Kecil

Saya sudah di kos lagi sejak kemarin. Seharian ini saya di kamar saja. Tiba-tiba saya teringat dengan masa-masa kecil saya.

Entah tahun berapa persisnya, saya tidak ingat. Tapi kala itu setiap hari minggu begitu spesial bagi saya. Ah, bukan saya saja, tapi juga anak-anak lainnya di kampung saya. Di kampung kami saat itu televisi adalah barang mahal, hanya keluarga tertentu saja yang memilikinya. Kami yang tidak punya televisi di rumah harus ke rumah tetangga jika ingin menonton. Sebut saja Wak Ganol ataupun Bik  Gonjes. Ke rumah mereka lah kami menonton tv beramai-ramai setiap hari minggu.

Setiap anak sudah mandi dan rapi di minggu pagi. Uang jajan yang saya tak ingat berapa nominalnya pemberian dari orang tua, cukup untuk membeli sebungkus es kecang hijau dan sebungkus mie instan yang dimakan mentah. Kami siap untuk menonton tv ke rumah tetangga.

Sumber: youtube.com

Sumber: youtube.com

Wiro Sableng. Pendekar Naga Geni 212. Ada yang ingat dengan serial ini? Ini lah yang kami tunggu-tunggu setiap hari minggu. Beramai-ramai menonton, terpukau-pukau dengan para pendekar nya yang bisa terbang kesana kemari. Pukulan Matahari, Jurus Kunyuk Melempar Buah, dan sederet jurus-jurus hebat lainnya dengan sinar warna warni.

Rasanya indah sekali masa-masa itu.

Kue Lebaran

Selamat pagi dari kampung tercinta yang pagi ini basah tsah! Karena diguyur hujan.

Mungkin postingan ini gak penting. Gua juga sepertinya kurang kerjaan. But, I want to post this. Seperti yang udah gua bilang sebelumnya bahwa kalo lebaran kue di rumah kami adalah kue yang… gak macem-macem alias very very traditional (could I find better words?). So ini adalah penampakan kue-kue itu:

Ini yang namanya kue kembang goyang

Ini yang namanya kue kembang goyang

This is kue bawang

This is kue bawang

Kalo yg ini wajik bandung

Kalo yg ini wajik bandung

Semua org pasti tau ini apa

Semua org pasti tau ini apa

Paling suka sama nastar, dibawain kakak

Paling suka sama nastar, dibawain kakak