When A Man Hurts A Woman

Hari ini secara gak sengaja saya udah melukai hati seorang cewek. Kejadiannya adalah …

Pepustakaan Soeman H.S., kira-kira pukul 10.30 pagi. Saya dan 2 orang teman kelompok saya, Ujun dan Siti (keduanya cewek), tengah mengerjakan tugas mata kuliah Entrepreneurship. Tugasnya adalah merangkum materi yang disampaikan oleh narasumber pada Rabu lalu, Pak Wira.

Dari kita bertiga cuma saya yang membawa buku catatan, sementara dua teman saya lainnya lupa. Padahal catatan saya tergolong singkat. Sebenernya Siti membawa buku notes kecilnya, tapi ternyata catatan di notes itu bukan materi yang disampaikan Pak Wira. Sambil membaca buku catatan saya, kita bertiga juga mengingat-ingat materi yang tidak ada di catatan saya. Kita bertiga pun mulai terlibat dalam diskusi. Sementara itu saya berinisiatif untuk menuangkan hasil diskusi ke dalam tulisan.

Kita bertiga (sebenernya ada satu lagi) adalah teman yang  cukup dekat. Di kampus, ke kantin, makan di luaran, nge-mall, dan lain-lain hampir selalu sama-sama. Yah, biasa kalau beberapa orang teman dekat ngumpul bawaanya pasti cerita terus. Selalu ada cerita ini itu kayak gak ada habisnya. Begitu juga saat sedang diskusi tugas ini. Beberapa kali diskusi jadi terganggu karena di sela-sela diskusi Siti malah mengomentari hal-hal di luar topik diskusi. Karena bukan sekali dua kali saya pun secara spontan bereaksi.

Lu bisa diem jangan ajak ngomong yang lain-lain dulu gak?”, kata saya ke Siti.

Seketika Siti langsung diam.

Diskusi berlanjut. Tapi, beberapa saat kemudian suasana diskusi terasa aneh karena tak sedikitpun suara Siti terdengar. Siti beneran diam, sehening-heningnya. Saya tau, ini pasti karena reaksi saya tadi. Saya menatap Ujun, sembari bertanya kenapa Siti malah jadi gak bersuara sama sekali.

Saya pun minta maaf ke Siti. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya sama sekali gak bermaksud meminta dia untuk diam seperti itu. Yang saya maksud adalah agar fokus pada topik diskusi, bukan malah membahas atau mengomentari yang lain-lain. Tapi jadinya malah… entahlah.

Setelah minta maaf, saya mencoba mengajak Siti untuk ikut diskusi lagi.

Jangan diam terus gitu… ayo ikut ngomong”, kata saya. Tapi, Siti tetap diam. Saya gak tau harus apa. Saya dan Ujun kemudian melanjutkan diskusi.

Singkat kata tugas pun selesai. Saya mainan hp, sekedar mengecek timeline di beberapa social media yang saya punya. Yap! Ada sebuah post di line dari Siti, tentang kejadian barusan dengan kata bernada rendah diri. Saya menghela dada.

Sore tadi, saya mengecek recent update di bbm. Lagi. Kali ini Siti meng-update display picture nya. Sebuah gambar yang membuat saya tambah merasa bersalah.

ChjBaQxDVBBifJW

Ah, betapa hati begitu mudahnya terluka. Apalagi hati wanita.

 

 

Advertisements

Beli kedondong uang receh, komen dong biar kece.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s