(Tidak) Aktif di Organisasi

Sekarang jam 2:58 pagi. Saya terbangun. Seperti biasa, langung cari hape dan lihat-lihat update-an di social media. Bagi mahasiswa tingkat akhir seperti saya ini, segala berita tentang lowongan kerja yang didalamnya menerima mahasiswa tingkat akhir (sedang menyusun skripsi), pastinya menjadi sesuatu yang menarik perhatian. Teman saya posting tentang itu di salah satu grup yang saya ikuti. Saya pun tertarik membacanya.

Sebuah lowongan kerja untuk posisi Management Development Program (Assistant Manager) dari Bank Syariah Mandiri (BSM). Saya baca syarat-syaratnya. Semua saya punya, kecuali satu : Aktif di organisasi (Kampus / UKM / BEM / SENAT / Kemasyarakatan) diutamakan pengurus inti. Kemudian di barisan paling akhir, disertakan juga : Hanya kandidat yang memenuhi kualifikasi yang akan kami proses ke tahap lebih lanjut. Bagian ini yang paling menyesakkan. Tak usah bicara soal proses seleksi, memposisikan diri sebagai calon kandidat saya bisa membayangkan langkah saya bahkan sudah dipangkas sebelum saya memasukkan berkas. Sedih.

Selama kuliah, jangankan organisasi kemasyarakatan, organisasi yang ada di kampus saja saya tak pernah aktif. Saya memang malas berorganisasi. Hari-hari kuliah saya jalani dengan datang ke kampus, belajar di kelas, ke kantin dan ngumpul bareng temen (yang itu-itu aja). Saya menikmati meski teramat sangat biasa dan tidak keren sama sekali. Sekarang, baru saya mengiyakan bahwa berorganisasi itu memang penting. Setidaknya untuk memenuhi kualifikasi di lowongan kerja.

Sedikit timbul penyesalan, saya akui. Berbagai kata andaikan, kalau saja dan sejenisnya pun tiba-tiba berdatangan di pikiran. Saya menertawakan diri sendiri. Dengan fakta kualifikasi saya yang menyedihkan ini, saya sempat memprotes kenapa perusahaan harus menyertakan syarat aktif berorganisasi di lowongan-lowongan kerja. Saya bahkan sempat membela diri dengan berkata bahwa orang yang tidak aktif berorganisasi belum tentu buruk dalam pekerjaannya. Sudah tidak memenuhi kualifikasi masih saja protes.

Pada akhirnya saya berujung pada suatu harapan. Saya jelas cemas tidak akan diterima kerja karena saya tidak aktif berorganisasi. Tapi saya percaya akan tetap ada lowongan-lowongan kerja yang tidak mencantumkan : Aktif di organisasi, dan terlebih lagi : Hanya kandidat yang memenuhi kualifikasi yang akan kami proses ke tahap lebih lanjut. Saya percaya selalu ada tempat untuk setiap orang. Pun bukankah Tuhan punya kuasa mengatur rezeki masing-masing orang?

 

Advertisements

One response to “(Tidak) Aktif di Organisasi

Beli kedondong uang receh, komen dong biar kece.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s