Romantisme apa namanya?

Pagi ini saya sarapan dengan nasi gurih lagi. Saya selalu suka nasi gurih. Saya merasa menjadi anak kos yang tidak menyedihkan dengan sarapan dengan nasi gurih.

Di tempat biasa saya beli, kali ini si kakak penjual sedang menggendong anak kecil yang sedang tidur (sepertinya anaknya), sementara si abang baru saja mengambilkan bantal untuk alas tidur si kecil. Anaknya sendiri sepertinya laki-laki, mungkin umurnya sekitar 1 tahun setengah, rambutnya bagus (yang kelihat sama saya cuma rambutnya). Oh, jadi mereka berdua suami istri ya? Dari pertama beli di situ, saya sempat berpikir begitu. Sepertinya memang iya.

Hmm.. sepasang suami istri bersama si buah hati. Bukan di mall, bukan di taman, bukan juga di tempat-tempat lainnya untuk sekedar cari hiburan. Melainkan di bawah kanopi di depan toko orang yang sedang tutup (pagi begini toko emang belum buka), bersama gerobak kecil tepat di pinggir jalan. Tak lain tak bukan adalah untuk berjualan. Sebuah usaha menyambung hidup dengan mengambil peluang saat manusia-manusia lainnya tak punya waktu untuk menyiapkan sarapannya sendiri.

Rupanya romantisme bisa hadir dalam wajah berbeda. Seperti yang saya lihat kali ini. Romantisme yang berbalut perjuangan hidup. Jelas sekali, romantisme yang saya lihat kali ini jauh lebih romantis. Lebih dari sekedar romantisme (saya gak tau apa namanya).

 

 

Advertisements

Beli kedondong uang receh, komen dong biar kece.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s