Satu Tahun Terakhir

Sudah tiga tahun sejak saya menyandang status sebagai mahasiswa. Sekarang sudah memasuki tahun keempat. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dulu, dalam kurun waktu tiga tahun masa SMA, terhitung sejak Juli 2008 hingga April 2011, saya merasakan perkembangan yang luar biasa pada diri saya. Selama tiga tahun tersebut, saya belajar banyak hal. Saya banyak mengikuti kompetisi matematika, fisika, juga karya tulis ilmiah. Saya bahkan mampu meninggalkan beberapa ‘jejak’ nyata sebagai bukti atas apa yang saya pelajari. Tapi, tak begitu dengan apa yang saya rasakan selama kuliah tiga tahun belakangan. Saya merasa diri saya tidak berkembang. Saya merasa seperti tidak melakukan sesuatu yang berarti. Sebagai mahasiswa ilmu komputer, saya merasa tidak bisa apa-apa. Saya kecewa dengan diri saya sendiri.

Adalah keinginan orang tua saya sehingga saya berkuliah di kampus saya sekarang. Saya tak mau sebab saya punya pilihan sendiri, tapi saya tak bisa menolak. Saya mencoba ikut kemauan orang tua meskipun sama sekali tak punya gambaran atas jurusan yang saya ambil di kampus ini.

Saya mengambil jurusan komputer, prodi sistem informasi. Tiga tahun sudah saya menjalani perkuliahan. Saya tetap tidak menemukan sesuatu dimana saya bisa berkata pada diri saya sendiri bahwa sesuatu tersebutlah yang akan saya ambil sebagai jalan hidup saya nanti.

Saya takut. Saya khawatir. Dilihat dari IPK, saya bukanlah termasuk mahasiswa yang menyedihkan. Sama sekali tidak. Tapi, saya merasa ada sesuatu yang salah yang terjadi pada diri saya. Saya merasa bahwa saya tidak benar-benar baik-baik saja. Saya merasa bahwa saya tidak berproses dengan baik dalam tiga tahun belakangan. Angka pada IPK saya sama sekali tidak menggambarkan bagaimana kualitas ilmu yang saya punya. Saya heran kenapa ini bisa terjadi.

Sekarang sudah memasuki tahun keempat, status saya sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir. Dengan bekal pengetahuan yang saya punya, kalau boleh saya akui, saya tidak siap menyandang status tersebut. Saat ini dimana saya sedang berusaha menyusun proposal tugas akhir (TA), saya sangat merasa kesulitan. Saya mencoba membaca referensi, tapi saya seperti tak punya fondasi. Saya mencoba bertanya pada dosen, tapi saya selalu tak mampu berargumen. Ini seperti memperjelas bahwa saya memang tak tahu apa-apa.

Saat ini, hari-hari saya lebih banyak diisi dengan berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran. Saya terus bertanya-tanya pada diri saya sendiri.
#1 Apakah saya mampu menyelesaikan TA saya.
#2 Kalaupun saya mampu dan pada akhirnya wisuda tepat waktu, apakah saya bisa bekerja sedangkan saya merasa bahwa saya tak bisa apa-apa sebagai (calon) lulusan prodi sistem informasi.

Ngeri sekali rasanya. Saya menyadari bahwa memang saya tidak berproses dengan baik selama tiga tahun belakangan. Saya sadar itu. Mungkin itulah penyebab atas apa yang saya rasakan sekarang. Saya kecewa dengan diri saya sendiri. Tapi, saya tak mau gagal. Saya tak mau membuat orang tua saya ikut kecewa. Saya harus bangkit di satu tahun terakhir. Saya harus berbenah. Saya harus mengejar ketertinggalan.

Advertisements

Beli kedondong uang receh, komen dong biar kece.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s