Agar Putih Abu-abu tidak memutuskan dengan abu-abu

(sekedar ingin membantu promosi)

Memutuskan jurusan yang akan diambil saat kuliah bukanlah hal yang mudah. Bagi sebagian siswa ada yang sudah menemukan passion-nya saat masih duduk di bangku SMA, sehingga mereka sudah punya keyakinan yang kuat mengenai jurusan yang tepat untuk diri mereka. Tetapi tidak begitu adanya bagi sebagian siswa yang lain. Ada yang memang kemampuannya saat duduk di bangku SMA sangat kurang, sehingga tidak pede untuk mengambil jurusan apapun. Akhirnya mengambil jurusan tertentu hanya kerena sekedar ikut-ikutan teman. Ada pula yang orang tuanya mengharuskan mereka untuk mengambil jurusan-jurusan tertentu, dalam kata lain ada (sedikit) unsur pemaksaan. Padahal jurusan yang diambil saat kuliah seharusnya tidak boleh asal-asalan. Siswa harus mengerti apa dan bagaimana jurusan yang akan mereka ambil. Jika mereka salah mengambil jurusan, maka hampir dapat dipastikan selama masa kuliah mereka akan terus menerus mengalami ketidaknyamanan menjalani hari-hari perkuliahan, apa yang mereka pelajari tidak nyambung dengan peminatan mereka. Kalau sudah begitu biasanya mereka akan menjadi malas mengerjakan tugas, kuliah hanya sekedar datang setor muka tanpa mendapatkan esensi dari perkuliahan tersebut. Mereka menjadi uring-uringan. Kasihan sekali jika selama 3-4 tahun atau bahkan lebih mereka seperti ini.

Sebuah ide kreatif dari tim #galaujurusan membuat suatu blog yang berisi cerita-cerita dari para (mantan) mahasiswa untuk menjadi referensi bagi adik-adik SMA sederajat dalam memilih jurusan dengan bijak. Cerita-cerita tersebut dipaparkan menurut sudut pandang orang pertama, orang yang langsung menjalani perkuliahan di jurusan tersebut. Jadi kamu bisa tahu bagaimana suka duka di jurusan tersebut secara real. Saat ini sudah ada 100 cerita lebih yang bisa kamu baca di blog tersebut. Silahkan langsung saja kunjungi jurusankuliah.tumblr.com dan semoga saat kuliah nanti kamu bisa berada di jurusan yang tepat!

galau jurusan

Practical Work [Part 1]

After delayed in last March due to joining a student exchange program in S’pore, I finally can take practical work. Submitted in May, my practical work application has been accepted, confirmed by email 2 days ago. It was said that the company cordially invites us (me and my partner) to conduct practical work from 3 Sept to 3 Oct 2014. It is very pleased to read it. I wish I could take it by doing my best. Bismillah.

Ayo, Wah.
Selama ini kita sudah berantakan. Sekarang, ayo kita tata kembali diri kita.
Selama ini bahkan kita tak berani bermimpi. Sekarang, ayo kita bangun lagi mimpi-mimpi baru.

22

So, today is the last day of my twenty-one. Tomorrow, which is one and a half hour to go, I am going to turn into 22.
Deep down inside of my soul, I am sad. I guess instead of doing my best, I spent the last one year of my life without any sense of good things. All I did is just acts like even totally not an early twenty years old man. Besides, I am now in the end of 3rd year of my school. It means there will be only one year for me before I enter the real life. The life when there is no more money sent by my father, the life when I have to be able gaining money by my own self for my life costs, the life when you are starting to be a man standing fit in your own feet.

If only I could choose, I wished to be a child forever. Because a child never think about anything except playing around. If only. Once I had phoned my mother during stress time towards many school tasks and problems of mine, including my thought I have just written above.  I even asked her what if I can not get work when I had already graduated from by bachelor, does father will still send me money. Fool. She just laughed. Then she said that nobody is always in the same stage of life period, people live life and grow up. Everything has its time. So all you can do is to enjoy every time coming into your self and make it with your best.

 

dari si bungsu

Sebuah sms masuk, dari adik perempuanku, si bungsu di keluarga kami. Isinya begini : “Lebih mudah untuk melakukan sesuatu selama 7 jam dalam sehari daripada melakukan sesuatu selama 1 jam dalam 7 hari berturut-turut“.
Ah, benar sekali.