Terima Kasih

Dibuat merasa dicintai, kemudian ditinggalkan. Setelah percakapan kita malam ini, aku berjanji pada diri sendiri: perihal menjatuhkan hati, aku akan sangat hati-hati sekali.

Terima kasih untuk semuanya.

Petaling Jaya,
06 Jan 2018, 02:05 AM.

Advertisements

Light Gray Suit & Light Blue Shirt

He sat in front of me. No, actually it was me who intentionally choose to sit behind him. So I can keep my eye on him. His hair turns gray and goes bald. But he still looks handsome with his uniform: light gray suit and light blue shirt. He must be proud wearing that uniform! Bringing the big name of the moon-kite-logo airlines.

Once again I was reminded, that you have to fight for your dreams. One day, I will be like him: fly with a pride!

Sunday, 10th December 2017
Airport Coach
Trip 13:00
KL Sentral – KLIA

 

Aku Sudah Sejatuh Ini, Mengapa Tiba-Tiba Kamu Beranjak Pergi?

Apakah kamu tahu, pada pagi pertama itu bukannya aku tak ingin, aku cuma tak cukup yakin untuk menyambut pelukan yang kamu tawarkan. Kemudian, hari-hari berlalu. Waktu membuat aku melewati banyak kesempatan bersamamu. Bersama kamu, aku merasa dijaga dan diperhatikan. Aku merasa aman dan nyaman.

Semanis apa kamu memperlakukan orang-orang, rasa cemburu selalu berhasil aku ketepikan. Tidak lain karena untukku aku merasa manisnya kamu lebihkan. Jadi, mohon jangan salahkan aku jika aku merasa diistimewakan.

Kamu berhasil membuatku berani menjatuhkan hati kepadamu. Sejak saat itu, namamu tak pernah alpa dalam doa-doaku. Aku selalu merindu.

Kamu mengajakku mencoba banyak hal baru. Naik bukit. Pergi ke pulau dengan air biru nan jernih. Bahkan aku jadi bisa menggemari apa yang dulu paling malas aku lakukan: berolahraga. Karena kamu hari-hariku terasa lebih hidup.

Tahukah kamu, aku berpikir keras untuk bisa membalas. Aku juga ingin memberi. Aku juga ingin menjaga dan memberi perhatian. Membuatmu merasa aman dan nyaman. Walau mungkin tak sebanyak yang kamu beri, apa yang bisa aku beri akan aku berikan. Apa yang bisa aku lakukan, akan aku lakukan. Sebab aku pun ingin kamu merasa bahwa diri ini bisa menjadi tempatmu pulang. Apakah aku berhasil membalas, walau sedikit saja?

Alih-alih memberikan nyaman, malah jengah yang kamu rasakan. Kira-kira begitu aku mengartikan pesan teks yang kamu kirim. Kamu mohon aku mengerti. Rupanya, aku yang terlalu perasa. Sedang kamu terlalu mudah berlaku manis pada siapa saja.

Lalu, kamu mendiamkan aku. Dingin. Malam-malam aku lewati dengan sepi. Aku belajar memeluk diri sendiri.

Aku menyayangi kamu tanpa banyak gerutu. Sebab aku pun ingin memahamimu. Sama sekali tak mudah kukumpulkan keberanian. Tercekat, tapi aku berhasil mengucap maaf. Kamu mengusap-usap lenganku, seketika itu pula aku lega. Kemudian, sama sekali tak aku duga, selama dua malam berikutnya tiba-tiba kamu berikan pelukan. Sebuah pengakuan keluar dari mulutku: aku menyayangimu. Setelah itu yang ada hanya hening sembari kamu tetap memelukku. Hati ini rasanya teduh sekali waktu itu.

Sayang… hubungan kita ini entah apa aku harus menamainya. Kamu hadir membawa damai. Pelukan, dekapan dan usapan yang selalu berhasil membuat aku tenang, bahkan untuk hari-hari yang terasa berat dan panjang.

Tapi, kini semuanya mulai berbeda. Entah kenapa belakangan kamu mendiamkan aku lagi. Maukah kamu bercerita? Tak peduli berapa kuat aku mendekat, kamu tetap tak beringsut hangat. Perasaanku terpental. Aku sudah sejatuh ini, mengapa tiba-tiba kamu beranjak pergi?

Ditemani iringan Una Mattina – Ludovico Einaudi

Aku Masih Ingin

Aku masih ingin membuka pagi  dan menutup malam bersamamu
Duduk di sampingmu
Menjawab pertanyaan-pertanyaanmu
Bercerita padamu
Melepaskan tawa denganmu

Aku masih ingin berada di dekatmu
Menghirup aroma badanmu
Mengamati setiap langkah kakimu
Menonton kau menghabiskan nasi dan lauk di piringmu

Semoga akan ada lagi waktu

Petaling Jaya, 05 Januari 2017