Aku Sudah Sejatuh Ini. Mengapa Tiba-Tiba Kamu Beranjak Pergi?

Apakah kamu tahu, pada pagi pertama itu bukannya aku tak ingin, hanya saja aku tak cukup yakin untuk menyambut pelukan yang kamu tawarkan. Hari-hari berlalu. Waktu telah membuat aku melewati banyak kesempatan bersamamu. Bersama kamu, aku merasa dijaga dan diperhatikan. Aku merasa aman dan nyaman.

Semanis apa kamu memperlakukan orang-orang, rasa cemburu selalu berhasil aku ketepikan. Tidak lain karena, untukku, aku merasa manisnya kamu lebihkan. Jadi, mohon jangan salahkan aku jika aku merasa diistimewakan.

Kamu berhasil membuatku berani menjatuhkan hati kepadamu. Sejak saat itu, namamu tak pernah alpa dalam doa-doaku. Aku selalu merindu.

Kamu mengajakku mencoba banyak hal baru. Naik bukit. Pergi ke pulau dengan air biru nan jernih. Bahkan aku jadi bisa menggemari apa yang dulu paling malas aku lakukan: berolahraga. Karena kamu hari-hariku terasa lebih hidup.

Taukah kamu, aku berpikir keras untuk bisa membalas. Aku juga ingin memberi. Aku juga ingin menjaga dan memberi perhatian. Membuat kamu merasa aman dan nyaman. Walau mungkin tak sebanyak yang kamu beri, tapi apa-apa yang bisa aku beri akan aku berikan. Apa-apa yang bisa aku lakukan, akan aku lakukan. Sebab aku pun ingin kamu merasa bahwa diri ini bisa menjadi tempatmu pulang. Apakah aku berhasil membalas, walau sedikit saja?

Beberapa kali aku membuatmu marah. Kamu mendiamkan aku. Tahukah kamu, malam-malam aku lewati dengan sepi. Aku belajar memeluk diri sendiri. Salah apakah gerangan yang sudah aku buat? Sampai sedemikian dingin aku kamu perlakukan.

Alih-alih memberikan nyaman, malah jengah yang kamu rasakan. Kira-kira begitu aku mengartikan pesan teks yang kamu kirim. Kamu mohon aku mengerti. Rupanya, aku yang terlalu perasa. Sedang kamu terlalu mudah berlaku manis, pada siapa saja. Aku meminta maaf. Berat sekali, tapi kini rasanya aku tahu bagaimana harus menjaga jarak.

Aku menyayangi kamu tanpa banyak gerutu. Sebab aku pun ingin memahami kamu. Sama sekali tak mudah kukumpulkan keberanian. Tercekat, tapi aku berhasil mengucap maaf. Kamu mengusap-usap lenganku, seketika itu pula aku lega. Kemudian, sama sekali tak aku duga, selama dua malam berikutnya tiba-tiba kamu berikan pelukan. Sebuah pengakuan bahwa aku menyayangimu keluar dari mulutku. Setelah itu yang ada hanya hening sembari kamu tetap memeluk. Tahukah kamu saat itu hati ini teduh sekali.

Sayang… hubungan kita ini entah apa aku harus menamainya. Kamu hadir membawa damai. Pelukan, dekapan dan usapan yang selalu berhasil membuat aku tenang, bahkan untuk hari-hari yang terasa berat dan panjang.

Tapi, kini semuanya mulai berbeda. Entah kenapa belakangan kamu mendiamkan aku lagi. Maukah kamu bercerita? Tak peduli berapa kuat aku mendekat, kamu tetap tak beringsut hangat. Perasaanku terpental. Aku sudah sejatuh ini, mengapa tiba-tiba kamu beranjak pergi?

Ditemani iringan Una Mattina – Ludovico Einaudi

Advertisements

Setelah Enam Bulan di Malaysia (Part 1)

Hello, world! How is life? Hehe. Kita jumpa lagi.

Udah lumayan lama sejak terakhir kali posting, kurang lebih udah 4 bulan. Kemana aja selama ini? Okay, here we go. I’ll tell you.

Nggak, nggak kemana-mana kok. Cuma sedikit lebih sibuk aja sekarang. Alhamdulillah ya… ada kesibukan. Lol. Sebenernya pengen banget tetep sering posting. Ngerekam setiap cerita yang dialami. Tapi, pulang kerja udah capek banget. Sampai condo bawaannya udah pengen istirahat. Dan akhirnya begini: jarang nulis.

So, how is life?

Kerjaan? Alhamdulillah udah mulai bisa enjoy. Apakah pas lagi enak atau pas lagi gak enak, sekarang udah mulai bisa menikmati. Yes, you just need to enjoy whatever it is.

Mimpi? Haha. Mimpi yang mana satu? Oh, yang ini: 3S1M? Wkwk. Masih. Sampe sekarang masih bermimpi (dan terus mempersiapkan diri), semoga suatu hari nanti bisa kesampaian. Amin ya Allah. Dan satu lagi: sekarang pengen sekolah lagi. Pengen S2. Di luar negeri. Dulu pernah saya benamkan dalam-dalam saat masa-masa Tugas Akhir, which was a hard time for me. Tapi, sekarang dia muncul lagi. Saya bahkan sudah menyimpan 2 universitas, satu di Jepang dan satu lagi di Inggris. Someday, insya Allah.

Sosial? Saya selalu berdoa pada Allah agar saya selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Dan alhamdulilah, apakah itu di kantor, atau saat saya harus kerja on-site, apakah itu di condo, di pasar, dimana aja, saya merasa orang-orang yang berinteraksi dengan saya memperlakukan saya dengan baik. Jarang sekali saya mendapat perlakuan buruk. Tapi saya juga yakin, ini juga berkat doa Mamak dan Ayah. Atau boleh jadi berkat doa-doa yang lainnya.

Hobi baru! Yeah saya punya hobi baru. Sekarang saya suka masak. Hehe. Kenapa ya? Mungkin ini bakat yang diturunkan dari Mamak. Wkwk. Mungkin karena bawa bekal lunch sendiri terasa lebih seru, dan lebih hemat. Lol. Kayaknya karena si Koko juga sih. Haha. Iya lah kan, supaya bisa gantian kalo dia lagi males atau apa. Atau… mungkin juga biar bisa kayak para chef kece di TV. Hahaha. Kapan-kapan boleh tuh posting resep masakan sendiri. Resep masakan sendiri? Padahal kalo mau masak nelpon mamak dulu sambil pegang pena dan buku -_-

Apa lagi ya? Sekian dulu dah. Sampai jumpa di posting-an berikutnya.

Petaling Jaya, 13 Mei 2017

Aku Masih Ingin

Aku masih ingin membuka pagi  dan menutup malam bersamamu
Duduk di sampingmu
Menjawab pertanyaan-pertanyaanmu
Bercerita padamu
Melepaskan tawa denganmu

Aku masih ingin berada di dekatmu
Menghirup aroma badanmu
Mengamati setiap langkah kakimu
Menonton kau menghabiskan nasi dan lauk di piringmu

Semoga akan ada lagi waktu

Petaling Jaya, 05 Januari 2017

Garis

Entah titik mana
Yang membuat aku menarik garis
Tak putus.. menujumu
Setiap waktu

Dalam rapalan doa kusemogakan
Suatu ketika nanti garis ini akan sampai di tujuan
Saat aku dan kau menjadi kita
Kemudian aku tak perlu lagi mencuri waktu
Untuk bisa membersamaimu

Petaling Jaya, 22 Desember 2016

Dulce dan Hujan

Hi Dul, apa kabar disana?  Baik-baik aja kan?

Malam ini gua rindu lu, Dul. Kalau aja lu belum pergi, pasti sekarang kita sama-sama disini. Berangkat kerja bareng, makan siang bareng, pulang bareng.

Dul.. gua sendirian disini. Iya ada koko dan ada temen-temen yang lain juga. Tapi maksud gua, gua disini sebagai BC sendirian. Gua belajar hal-hal baru semuanya sendiri, dikasih tugas juga ngerjainnya sendiri. Kalo ada lu kan kayak waktu KP dulu gua ada temennya. Gua gak akan kesusahan sendiri. Ada yang bisa diajak diskusi kapan aja. Nanti Dul kalo temen-temen yang lain pada overtime di kantor, gua bakal sendiri pulangnya. Jalan kaki ke halte sendiri, nunggu bus sendiri. Dan gua ga ada temen ngobrol. Lu tau kan gua susah deket sama orang.

Btw Dul beberapa hari ini disini selalu hujan tiap kali pulang kerja. Gua bawaannya jadi tambah sedih. Gua membayangkan ya kalo kita pulang kerja bareng pasti seru wkwk. Tapi jangan ejekin gua orang India ya 😀

Hmm.. entahlah Dul. Pokoknya malem ini gua rindu -_- Datang kat mimpi malam ni boleh tak?

Baik-baik ya Dul disana. Gua juga akan baik-baik disini. I’ll do my best. Janji!

Petaling Jaya, 02 Desember 2016